Harus Berdo'a

PERCIK.ID- Gusti Alloh swt. kadawuhan: ud’uni astajib lakum “Berdo’alah kepadaKU, niscaya akan KU perkenankan bagimu.”

Imam al-Ghozali di dalam karyanya “Minhaj al-‘Arifin” mengatakan; Jagalah etika-etika dalam berdo’a. Perhatikan kepada siapa dan bagaimana engkau berdo’a. Juga patut diperhatikan mengapa engkau berdo’a dan meminta? Ketahuilah bedo’a adalah totokromo-adab seorang hamba kepada Alloh swt. jika engkau tidak menghadirkan syarat-syaratnya, maka doa tersebut tak akan dikabul.

Imam Malik bin Dinar berkata; “Kalian menganggap telat turunnya hujan sedangkan aku tidak demikian. Seandainya Alloh tidak memerintahkan kita untuk berdo’a, kita tetap wajib berdo’a kepadaNYA, walaupun belum tentu dikabulkan.”

Karena berdo’a adalah adab, maka berdoalah dengan do’a orang yang meminta perlindungan, bukan doa orang yang mengajari Tuhan, alias mendekte Tuhan.

Tapi, jika kita benar-benar ikhlas dalam berdoa kepadaNYA, niscaya dengan kemurahan dan kelembutanNYA DIA akan mengabulkan. Sebab DIA sendiri yang telah menjamin untuk mengabulkan. Bagi mereka yang hanya mengandalkanNYA.”

Dalam artian meminta tidaklah sebatas berkata Ya Alloh berilah aku, melainkan meminta laksana hembusan nafas, yang ketika berhenti sedetik saja berarti mati. Demikianlah rasa butuh kita akan rohmat Alloh swt. menjadikan mengemis akan rohmatNYA sebagai nafas kita mulai bangun tidur hingga tidur kembali seraya terus berusaha demi tercapainya keinginan yang kita pinta. Dengan tangan tertengadah ke angkasa serta permintaan yang benar-benar tulus dari lubuk hati.

Oleh kerana itu, berdo’a tidaklah dipanjatkan hanya ketika mengalami kesulitan, kemiskinan, dan keterhimpitan  hidup, melainkan juga dalam kesenangan dan keberlimpahan.

Belum mendapat jodoh! Berdo’a. Mau menempuh ujian! Berdo’a. Tidak punya pekerjaan! Berdo’a.  Seolah-olah kita diberi harapan palsu bahwa satu keajaiban akan terjadi, dan kalaupun itu tidak terjadi kita akan mengatakan, “Mungkin Alloh sengaja menunda permohonanmu sebab menyiapkan ganti yang lebih baik dari itu, bersabarlah.”

Namun perlu dipahami bahwa, sikap hanya bergantung pada do’a tidak akan mengubah apapun tanpa melakukan tindakan untuk mencapai apa yang menjadi isi do’a. Oleh karena itu tanpa mengurangi ketulusan doa kita harus mencari dan memerjuangkan apa yang kita minta bagaikan seseorang yang membutuhkan air dalam kehausan di tengah padang pasir.

Karenanya jika kita berdo’a dan hajat belum dikabulkan —meski telah sedemikian berusaha keras— jangan pernah berputus asa. Ingat jika permohonan kita belum dijawab, itu menunjukkan bahwa Alloh Mahakuasa dan Maha sak karepe-dewe alias suka-suka Alloh. DIA Dzat yang Mengenggam jagat raya ini sedang berpesan bahwa: “Tanpa pengetahuan dan izin dariKU, tidak akan sebulir benih pun akan berkecambah, tidak akan mungkin seorang ibu mengandung, tidak akan pula melahirkan kandungannya ke alam dunia ini”.

Sehingga yang mesti dilakukan adalah menjalankan apa yang menjadi tugas kita, melakukan apa yang seharusnya dilakukan, serta menyerahkan hasilnya kepada Alloh swt.

Sebab berdo’a itu tidak cukup hanya sekali melainkan harus diulang berkali-kali. Satu contoh untuk mendapatkan anugrah air zam-zam Ibunda Hajar as. tidak hanya sekali berlari; melainkan riwa-riwi dari bukit Shofa ke bukit Marwah.

Seorang petani yang bijak tidaklah hanya duduk manis di atas galengan sawah dan berdoa; “Ya Alloh berilah kami panen yang melimpah”. Melainkan ia membajak sawah; menenam bibit; mengairi tanaman; setelah semua yang menjadi tugasnya dikerjakan dengan baik, barulah kemudian ia berdo’’a dengan sepenuh hati memasrahkan hasilnya kepada Alloh swt. dengan senantiasa berharap semoga Alloh swt. berkenan mengirimkan hujan dan cuaca yang bagus untuk mendapatkan hasil panen yang berlimpah.

Ketika suatu doa dikabulkanNYA dan keinginan kita tercapai, maka bersyukurlah. Demikian pula ketika keinginan belum tercapai. Sebab itu pun bagian dari kelembutan Tuhan.

Setidaknya kita telah berada di jalan yang benar yakni mengetuk pintuNYA memohon karuniaNYA bukan memelas di hadapan manusia. Itu adalah suatu anugrah yang agung. Menunjukkan bahwa kita adalah hambaNYA yang hanya mengandalkanNYA bukan selainNYA.

Mukhtarom Arsalan
Ribath Ibadurrohman el-Luthfy


Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama