Tarekat Kebahagiaan Syaikh Hasan asy-Syadzili dan Didi al-Kempoti



PERCIK.ID- Para khotib selalu membuka khutbahnya dengan bacaan hamdalah; Alhamdulillah. Sebagai pengingat diri serta ajakan kepada saudara sekalian untuk bersyukur kepada Alloh swt. Syukur atas hidup, serta aneka macam isinya. Baik yang baik, maupun yang dianggap tak baik. Yang asyik, atau yang dirasa kurang asyik. Hamba sejati, selalu menemukan celah untuk rasa syukur.


Apabila kehidupan kita penuh dengan masalah, kesulitan dan kesedihan; hutang yang belum terbayarkan, jodoh yang tak kunjung datang, anak yang nakal, istri yang galak dan cerewet, tetangga yang menjengkelkan, serta macam-macam masalah lainnya, Imam al-Ghozali menawarkan satu cara agar kita tetap bisa bersyukur seburuk apapun keadaannya. Saran beliau, cobalah datang ke kuburan, kemudian lihatlah nisan-nisan orang-orang yang telah mati itu, lalu bayangkanlah, betapa meraka mendambakan kehidupan, walau cuma sesaat.

Orang-orang beriman yang saleh ketika hidup, mendambakan kehidupan lagi untuk memperbaiki dan memperbanyak amal-amal. Orang-orang yang mendustakan Alloh dan bersikap ingkar, mendambakan kehidupan lagi untuk mengikrarkan keimanan.

Sementara kita, khususnya Anda yang membaca tulisan ini, saat ini masih dikaruniai Alloh kehidupan, mata masih bisa membaca font-font kecil di layar gaway Anda. Anda juga masih bisa beribadah, masih bisa beristighfar, masih bisa melakukan aneka macam kebaikan. Sedangkan terhadap masalah-masalah yang menimpa Anda, Anda masih bisa bersabar, dan kesabaran Anda adalah bernilai kebaikan pula. Itulah mengapa, sekadar hidup saja sudah merupakan kenikmatan yang amat sangat layak untuk disyukuri.

Barangkali kita sudah sangat akrab dengan firman Alloh ini,

لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ. وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ

"Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmatKU), maka sesungguhnya adzabKU sangat pedih."

Alloh sangat menyukai dan menghargai hamba-hambaNYA yang bersyukur sebab menyadari betapa besar karunia yang Alloh berikan. Sebaliknya, Alloh mengancam orang-orang yang tidak bersyukur akibat kebodohannya yang membuatnya tidak bisa merasakan karunia-karunia yang Alloh berikan. Menjadi bebal dan tidak tahu berterima kasih.

Guru kami, ketika membuka setiap ngAJI yang beliau ampu, senantiasa berkata "Alhamdulillah, isih urip.” Sebab memang, alangkah dahsyatnya karunia kehidupan itu.

Syaikh Hasan asy-Syadzili, seorang imam utama dalam Tarekat Syadziliyyah pernah berkata, sebagaimana ditulis oleh Syaikh Abdul Wahab asy-Sya'roni dalam kitabnya al-Minhanus Saniyyah,

"Makanlah hidangan paling enak, reguklah minuman paling nikmat, berbaringlah di atas kasur terbaik, kenakanlah pakaian dengan bahan paling lembut. Bila satu dari kamu melakukannya lalu berucap syukur, ‘alhamdulillah’, maka setiap anggota tubuhnya ikut menyatakan syukur."

Anjuran Syaikh asy-Syadzili bertujuan agar seseorang bersyukur kepada Alloh atas nikmatNYA dengan totalitas. Jangan sampai seumur hidup menikmati dunia yang apa adanya, lalu bersyukur dengan biasa-biasa saja. Atau lebih celaka lagi, tidak menerimanya dengan lapang dada dan memakinya. Ini merupakan musibah bagi mereka yang menapaki jalan Ilahi.

Kehidupan dunia dengan aneka macam isinya harus kita olah untuk menjadikan diri kita senyaman mungkin, sehingga rasa syukur kita kepada Alloh memuncak. Sehingga kita bisa berjalan di atas kerajaan Alloh berupa bumi ini dengan tersenyum serta tertawa.

Lho, tertawa itu kan bikin hati keras? Tentu saja benar, itu sabda Nabi saw. Tapi, tertawa yang bagaimana dulu? Sebab umat pilihan Nabi saw. adalah mereka yang tertawanya keras dan lepas karena mengagumi dan meyakini, betapa luasnya rohmat dan kasih sayang Alloh pada mereka.
إِنَّ مِنْ خِيَارِ أُمَّتِيْ قَوْمًا يَضْحَكُوْنَ جَهْرًا مِنْ سَعَةِ رَحْمَةِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ
Boleh-boleh saja Anda mendakwa diri sebagai sadboys atau Sobat Ambyar Didi Kempot. Tapi jadilah secara kaffah. Qola Syaikh Didi al-Kempoti: Patah hati jangan ditangisi, mending dijogeti. Wa Qola Kusplus:

Buat apa susah?
Buat apa susah?
Lebih baik kita bergembira!


Syafiq Rahman
Freelence Writer & Pedagang Buku "Makaru Makara"    fb 
        

4 تعليقات

أحدث أقدم