Tetesan Hidayah, Rembesan Air Kencing di Rumah Imam Hasan al-Basri

PERCIK.ID- Dalam mengajak umat manusia untuk beriman kepada Alloh dan rosulNYA, beliau Rosululloh saw., selalu mendapatkan aneka tanggapan yang berbeda. Ada yang menerima dengan penuh ridlo. Ada yang acuh, ada juga yang menolak dan berusaha keras untuk menghentikan ajakan beliau saw dengan berbagai cara, mulai dari yang lembut dengan aneka rayuan dan bujukan hingga kekerasan.

Meski mendapatkan pertentangan yang luar biasa dari kaumnya, Rosululloh saw., selalu mengedepankan kasih sayang. Saat para sahabat beliau marah dan menawarkan diri untuk memenggal kepala seorang kafir Quraisy karena perlakuannya yang keterlaluan kepada beliau, dengan lemah lembut beliau melarang. Saat Malaikat Jibril “marah” dan meminta izin kepada Rosululloh untuk menjatuhkan Gunung Uhud, karena melihat manusia agung kekasih Alloh, dan pimpinan umat manusia itu harus berdarah-darah ketika dilempari batu oleh penduduk Tho’if, beliau juga melarang bahkan beliau mendoakan penduduk Tho’if agar mendapatkan hidayah dan keturunannya kelak menjadi pembela-pembela Islam.

Lemparan batu, tidak beliau balas dengan lemparan batu. Sebaliknya lemparan batu beliau balas dengan “lemparan roti.” Kekerasan tidak beliau balas dengan kekerasan. Api yang berkobar tidak beliau padamkan dengan minyak, namun dengan air. Beliau sadar sikap mereka yang menentang ajakan untuk beriman karena memang hidayah Alloh belum menyentuh kalbu mereka.

Jangan Anda bilang beliau tidak berdaya untuk berlaku keras membalas perlakuan sebagaimana perlakuan kaum kafir Quraisy. Lihatlah saat Fathu Makkah, apa yang dilakukan oleh Rosululloh. Ketika mempunyai kesempatan emas untuk membalas segala perbuatan kejam yang pernah dilakukan oleh kafir Quraisy, beliau saw., tidak melakukannya. Justru yang dilakukan beliau adalah memberi amnesti massal kepada mereka, dan memberi mereka aneka hadiah. Akhlak mulia itulah yang kemudian membuat takjub orang-orang kafir Makkah dan pada akhirnya membuat mereka berbondong-bondong untuk masuk islam. Sungguh ironis di era sekarang jika ada orang atau kelompok yang mengatasnamakan islam kemudian berlaku anarkis dan keras kepada sesama saudaranya.

Keyakinan yang lama tidak akan pernah bisa diganti dengan keyakinan baru jika jalan yang ditempuh adalah dengan paksaan dan kekerasan. Boleh jadi mulut akan mengatakan iman, namun siapa yang tahu isi hati. Keyakinan lama akan bisa berganti dengan keyakinan baru, jika yang empunya keyakinan dengan kesadaran dari lubuk hati yang terdalam ingin merubah. Inilah yang dipahami betul oleh Rosululloh, di mana beliau tidak pernah memaksa manusia untuk masuk islam, sebaliknya beliau memberikan teladan nyata, dengan menunjukkan akhlak islam yang agung, hingga membuat manusia takjub dan pada akhirnya dengan kesadaran, mereka berbondong-bondong menyatakan keimananya.

Lihatlah Abu Sufyan bin Hard dan isterinya Hindun, Kholid bin Walid, Amr bin Ash, Ikrimah bin Abu Jahal dan tokoh-tokoh kafir Quraisy lainnya, yang dulu begitu getol memushui Islam pada akhirnya menyatakan keislamannya dan menjadi pembela-pembela islam yang hebat. Akhlak agung Rosululloh dalam mengajak umat manusia kembali kepada Alloh itu dilanjutkan oleh para sahabat beliau, tabiin dan salafus shalih. Hasilnya luar biasa, dengan kesadaran dari hati yang terdalam karena melihat betapa agungnya akhlak seorang muslim itu, mereka mennyatakan diri sebagai orang yang beriman kepada Alloh. Kisah di bawah ini sengaja penulis kutip untuk bisa kita ambil teladan bagaimana akhlak agung yang dimiliki oleh seorang ulama tabiin terkemuka di kota Basrah, Irak yakni Hasan Al-Basri dengan tetangganya yang Nasrani yang pada akhirnya membuat “jalan” bagi sang tetangga untuk mendapatkan hidayah Alloh. 

Imam Hasan Al-Basri memiliki seorang tetangga Nasrani. Tetangganya itu memiliki kamar kecil untuk kencing di loteng di atas rumahnya. Atap rumah keduanya bersambung menjadi satu. Air kencing tetangganya itu merembes ke dalam kamar Imam Hasan Al-Basri. Namun beliau tidak pernah protes dan mempermasalahkan hal itu sama sekali. Beliau menyuruh isterinya meletakkan wadah untuk menadahi tetesan air kencing dari kamar mandi tetangganya itu agar tidak mengalir ke mana-mana.

Jika hanya beberapa bulan mungkin apa yang dialami oleh Imam Hasan Al-Basri itu biasa. Namun Imam Hasan al-Basri memang benar-benar ulama pilihan Alloh yang mengamalkan akhlak agung sebagaimana diteladankan oleh Rosululloh. Selama 20 tahun peristiwa merembesnya air dari kamar mandi sang tetangga yang nasrani itu tidak pernah beliau bicarakan dan beritahukan kepada sang tetangga itu sama sekali. Tetes demi tetes air itu tidak membuat hati Imam Hasan al-Basri marah, kesal dan kemudian melabarak sang tetangga yang teledor karena lalai melihat kamar mandinya yang bocor itu. Justru Imam Hasan Al-Basri tiada henti, “mempertontonkan” akhlak agung islam, beliau doakan sang tetangga agar mendapat hidayah islam.

Hidayah adalah hak Alloh. Kapan, siapa dan di mana hidayah berlabuh mutlak hak Alloh. Manusia tidak ada kuasa pada wilayah itu. Imam Hasan Al-Basri sadar benar dengan hal ini, untuk itu yang beliau lakukan adalah berusaha menunjukkan keindahan islam, urusan hidayah tetangganya yang Nasrani itu beliau serahkan kepada Alloh.

Subhanalloh, takdir pun berjalan Alloh. Imam Hasan Al-Basri jatuh sakit. Semua kolega, santri, murid dan sahabat berdatangan menjenguk Imam Hasan Al-Basri  tak terkecuali dengan tetangganya yang Nasrani itu. Ketika masuk dan berbincang dengan Imam Hasan Al-Basri, ia merasa aneh melihat ada air menetes dari atas di dalam kamar sang imam. Ia perhatikan dengan seksama tetesan air yang terkumpul dalam wadah. Ternyata air kencing. Ia langsung mengerti bahwa air itu merembes dari kamar kecilnya yang ia buat di atas loteng rumahnya. Yang membuatnya heran adalah mengapa Imam Hasan Al-Basri tidak bilang kepadanya.

“Sebelumnya mohon maaf wahai Imam, sejak kapan engkau bersabar atas tetesan air dari kamar kecil kami ini?” tanya si tetangga.

Imam Hasan Al-Basri tidak diam tidak menjawab. Beliau tidak ingin membuat tetangganya itu merasa tidak enak.

“Imam, saya mohon katakanlah dengan jujur sejak kapan engkau bersabar atas tetesan air kencing kami? Jika tidak engkau katakan maka kami akan sangat tidak enak, kami merasa sangat bersalah.” Desak tetangga Nasrani itu.

Imam Hasan al-Basri tetap diam, sesekali sambil menarik nafas panjang dan tersenyum memandang wajah sang tetangga itu, sementara sang tetangga terus mendesak Imam Hasan Al-Basri agar berkata yang sebenarnya.

“Sejak dua puluh tahun yang lalu.” Jawab Imam Hasan Al-Basri dengan suara purau.

“Kenapa engkau tidak memberitahu kami wahai Imam?”

“Nabi kami mengajarkan untuk memuliakan tetangga, beliau bersabda, “Barang siapa yang beriman kepada Alloh dan hari akhir maka muliakanlah tetangganya.”

Tangis sang tetangga pun pecah seketika. Betapa selama ini Imam Hasan Al-Basri tokoh besar itu bersabar sedemikian lamanya dengan rembesan air dari kamar mandinya. Dia dan keluarganya akhirnya menyatakan keislamannya di depan Imam Hasan Al-Basri.

Zaenal Abidin el-Jambey
Penulis Buku "Aku Berusaha, Alloh yang Punya Kuasa"  fb

إرسال تعليق

أحدث أقدم