Rasa Yakin yang Memudar

PERCIK.ID- Yakin, meyakinkan, dan keyakinan merupakan kata yang sangat berpengaruh terhadap laku amal seseorang. Seluruhnya memiliki energi yang mungkin secara fisika sulit untuk diterangkan. Akan tetapi, energi rasa yakin mampu mengubah kebiasaan seseorang yang biasa menjadi luar biasa.


Cerita mengenai rasa yakin yang mewujud dalam kenyataan sering kita jumpai dari para sesepuh: orang tua, guru, terlebih dari para simbah yang usianya sekitar 70-an. Beliau-beliau tidak jarang dawuh, “Sing penting yakin, Le.” Yakin yang sering beliau-beliau ungkapkan di setiap kalimatnya bagi saya memiliki arti, yakin pada Keserba-baikan Alloh.

Simbah kakung dari jalur bapak saya, Allohuyarham R. Soenjoto sangat yakin dengan rezeki Alloh begitu murah. Beliau memiliki 11 orang putra-putri, sungguh walaupun saya tidak terlalu lama membersamai beliau namun cerita dari pak dhe, bu dhe, pak lek, dan bu lek beliau bersama simbah putri tidak pernah galau dalam menafkahi keluarganya. Raut sedih dan khawatir akan masa depan putra-putrinya pun tak pernah tampak. Tidak hanya itu, kekuatan keyakinan pada Alloh soal rezeki yang tak akan tertukar beliau juga buktikan dengan menjadi bapak angkat bagi anak-anak lain, justru bagi beliau memiliki banyak anak adalah rezeki tersendiri.

Cerita di atas hanyalah secuil cuplikan rasa yakin di lingkaran saya yang bisa saya petik dari sekian banyak kisah rasa yakin di dunia ini. Rasa yakin yang mewujud dalam bentuk optimisme mungkin bagian dari kadar iman dan takwa kita pada Alloh swt. Alloh pun dawuh takhof”, janganlah takut, janganlah cemas, janganlah khawatir, dan beberapa frasa yang sepadan. Janganlah takut akan rezeki Alloh yang begitu luas, yakinlah! Kira-kira begitu.

Rasa yakin yang memudar, apakah berarti kualitas iman kita juga memudar? Kalau saya boleh menjawab: sangat mungkin, iya. Semakin kesini, semakin tua usia dunia ini, semakin banyak orang yang ragu, bimbang, takut, cemas, dan kehilangan rasa yakin. Enggan punya anak banyak, karena takut tidak bisa menafkahi, menyekolahkan, dan memberikan previlege wah. Mengansuransikan diri karena takut anak istri tidak tercukupi sepeninggalnya. Berhutang kesana kemari karena takut tidak bisa memiliki aset. Berikut ketidakyakinan lainnya yang dikemas apik oleh progam serta planning kekinian.

Oleh karena itu, menjadi penting bagi kita muslim-mukmin yang berpegang teguh dan bergantung hanya kepada Alloh swt. untuk tajdidul iman setiap saat. Meyakini dengan sekuat hati apa-apa yang telah Alloh anugerahkan kepada kita adalah sumber kekuatan iman untuk menyelesaikan tugas sebagai hambaNYA di dunia. Tawaran-tawaran sekitar yang sekiranya menggoda rasa yakin kepada Alloh menjadi memudar, alangkah eloknya kita hindari. Sedangkan menjadi penting bagi kita untuk terus meneladani kisah-kisah inspiratif mengenai keyakinan pada Alloh dari para sepuh-pinisepuh yang mungkin justru tidak mengenyam pendidikan formal dan tidak terlalu memiliki banyak rencana.


Berusaha menjadi manusia yang selalu bertawakkal, pasrah dengan segenap ikhtiar kepada setiap ketentuan Alloh swt. merupakan salah satu daya ungkit mengupgrade rasa yakin kita kepada Alloh swt. Bismillahi, dengan asma Alloh; Tawakkaltu, aku bertawakkal; ‘Alallôh, kepada Alloh; Lâ hawla wa laa quwwata, tidak ada daya dan kekuatan; Illâ billâh, kecuali dengan Alloh. Yakinlah!

Pandu T. Amukti
Santri yang nDokter Hewan

Posting Komentar

0 Komentar