Rezim Istri

PERCIK.ID- Dari banyak obrolan-obrolan, diskusi, ataupun sekadar curi-curi dengar dari obrolan bapak-bapak, sampailah saya pada simpulan fakta penting yang kini mejadi pegangan dalam menjalani kehidupan rumah tangga: bahwa yang paling ditakuti (hampir semua) wong lanang adalah istrinya. Entah bagaimana asal muasal sejarahnya, penjabaran saintifiknya, pemetaan dan pola struktur sosialnya, tapi yang pasti, saya pribadi sangat setuju dengan kebanyakan lelaki-lelaki itu.

 

Teman Bapak saya suatu kali pulang terlalu larut malam karena asik ngumpul sehingga lupa waktu. Daripada sampai rumah diomelin istri dan dipecuconi, akhirnya dia mengambil langkah strategis yang sulit tinemu nalar.

 

Tepat sebelum masuk halaman rumah, ia berhenti sejenak, termenung berpikir keras, kemudian setelah beberapa lama diam, ia bergerak dengan cekatan. Dikebutnya sepeda motor, dibablaske masuk blumbang alias kolam ikan di depan rumahnya. Alhasil, tampaklah ia mengalami kecelakaan!

 

Jatuh dalam air pada malam hari, basah, kotor, dan kedinginan. Istri mana yang tega melihat suaminya dalam keadaan seperti itu? “Woalah, Pak, Pak, piye polahe kok iso nganti ngono kuwi?”

 

Tidak perlu banyak penjelasan, cukup dengan pura-pura lemas dan ekspresi serba tersiksa, si suami telah membalik keadaan. Selain terhindar dari kemarahan dan omelan istri, kawan Bapak saya ini diopeni dengan gemati, dimasakin air anget untuk mandi, diceplokne ndog, ditemani makan, sampai tak lupa, berakhir dipeluk dalam kehangatan cinta kasih sayang istri. Luar biasa!

 

Cerita serupa tak hanya saya dapati dari satu dua pria. Meskipun berbeda-beda latar belakang, kondisi, dan pergolakan konflknya, hampir keseluruhannya memiliki pola yang sama seperti cerita diatas. Dan biasanya, semakin tua pelakunya, semakin seru dan menegangkan kisah-kisahnya.

 

Ini bukan soal suami-suami takut istri. Mosok iya, sampean berani bilang sosok Bung Karno adalah suami takut istri, atau bahkan Umar bin Khoththob umpamanya. Ya kan ndak mungkin lah kalau pemberani macam Sahabat Umar, yang bahkan setan jin menyingkir saat beliau lewat, adalah seorang penakut di depan istri.

 

Kalaupun Umar harus dimarahi istrinya dan ‘tidak melawan’ meskipun beliau sekuat dan sehebat itu, bukan berarti Umar adalah penakut kan? Pasti ada alasan lain dibalik pilihan sikap beliau yang seperti itu, kan?

 

Jadi, sikap lelaki-lelaki yang demikian itu, rasanya memang bagian wajib dalam hubungan suami istri saja. Bahwa suami musti tanya ini itu pada istri sebelum melakukan apa-apa, meminta maaf dalam keadaan salah bahkan dalam keadaan benar sekalipun, adalah hal-hal yang perlu dilakukan suami demi menjaga konstelasi kebaikan hubungan rumah tangganya.

 

Artinya, itu memang bagian dari jobdesc lelaki. Melakukan kewajiban dengan sepenuh hati, ikhlas dan tulus memberi, lalu bahkan dalam keadaan telah baik dan benar, tetap harus mengaku salah dan meminta maaf, maka semuanya itulah bagian pokok dari kewajiban seorang suami.

 

Tindakan-tindakan demikian sama sekali bukan bentuk kepengecutan dan ketundukan pria didepan wanita, melainkan sebaliknya, merupakan sikap kejantanan lelaki sejati yang mengerti posisinya. Bahwa wanita, adalah makhluk lemah yang wajib dikasihi, bukan untuk menang-menangan.

 

Meskipun pada akhirnya, tak bisa juga dibilang hidup lelaki beristri adalah hidup yang menderita. Karena toh, lelaki atau suami yang mengalaminya, menjalani itu semua cerita itu dengan bahagia, meskipun tetap ada gemes-gemesnya juga. Sesuatu yang lumrah-lumrah saja sebagai manusia.

 

Tapi, dalam pilihan sikap yang tetap tegap setia apapun kondisinya, bukankah itu tindakan patriotisme yang bisa kita artikan sebagai bentuk: cinta?


Enggar Amretacahya
Menulis Mencari Ilmu dan Berkah. Pedagang di Surabaya           

Posting Komentar

1 Komentar

Comments
Comments