Alengka

PERCIK.ID- Rahwono tertunduk, dadanya berdegup bagaikan derap lari kuda, nafasnya panjang sedikit-sedikit tertahan sejurus dengan bara api amarahnya yang mungkin sebentar lagi meledak. Amarah yang tak biasa.

Kumbokarno masih berdiri tepat di hadapan Sang Raja. Tubuh besarnya menghalangi pandangan para buzzer dan tamu undangan kerajaan yang masih bertanya-tanya, ada apa gerangan dengan Raja Rahwono. Selang beberapa waktu sebelumnya, gelak tawa masih membahana di pendopo yang disulap menjadi ruang pesta.

Hening merengsek seketika saat Kumbokarno melempar satu dua patah kata.

“Koko Prabu Dasamuka, aja gampang dak siyo mring sesami..”

(Kakanda Raja Rahwono, jangan gampang berbuat dzalim kepada sesama)

Suara berat tapi bervolume keras itu langsung mengheningkan hingar bingar suasana. Mata belok Rahwono bertambah lebar seolah akan melompat keluar. Untuk beberapa saat, tatapan tajam itu menusuk langsung pada sang Adik yang mencoba sedikit saja mengingatkan. Kumbokarno tahu benar akan konsekuensi dari perkataaannya itu.

Rahwono duduk menunduk, terdiam. Kumbokarno masih berdiri, menunggu.

“Kumbokarno minggato!!”

(Kumbokarno, pergi!!)

Hening pecah. Sang Kakak, Rahwono Raja Diraja Alengka berdiri menghampiri adiknya, membentak tepat di depan mukanya dengan suara seolah ingin menghancurkan semesta. Di pelataran istana Alengka, sejarah mencatat, Kumbokarno terusir oleh kakaknya sendiri. Peringatannya untuk melepaskan aktivis pembela kebenaran yang ditangkap prajurit Alengka tak dihiraukan oleh Raja. Bahkan kini, ia diusir, dianggap pengkhianat kerajaan. Seorang pesakitan.

Si SJW pembela kebenaran yang tertawan, hanya melihat dari kejauhan. Dia masih tersekap dalam kurungan yang sengaja diletakkan di tengah pelataran pendopo sebagai penanda pesta dan ditandai dengan tulisan setengah meremehkan: “Kurungan Hanoman si Monyet Sialan”

***

Pendopo Alengka awkward seketika. Format pesta pora dengan segala hiasan begitu rupa, sajian makanan lengkap, mulai dari daging rusa, gajah, sampai daging manusia pun ada semua tersedia untuk para bala raksasa, tapi pada saat yang sama, tak ada satu pun yang berani menyentuhnya. Lha kok makan, mau guyon, atau bahkan mau bergerak saja, para buto tak berani. Mau nekat dicaplok ndase sama Rahwono yang lagi duko?

Satu-satunya suara yang terdengar adalah langkah kaki buto raksasa yang terasa menggetarkan tanah pendopo. Bleng..bleng..bleng.. Kumbokarno perlahan meninggalkan pendopo dalam diamnya, meninggalkan kerajaan. Lebih baik baginya terbuang dan menjadi pesakitan daripada berada di belakang kakaknya yang keblinger hawa nafsu.

Cuma memang Rahwono kebangetan. Iya benar, Dewi Shinta cantik bukan kepalang, tapi kan bukan berarti boleh main sikat tanpa liat kanan kiri to. Apalagi Shinta kan lagi asyik-asyiknya honeymoon sama Pangeran Romo Wijoyo, e lha kok main culik aja. Itu kan kelakuan yang nggak banget untuk ukuran seorang Maha Buto sekelas Raja Alengka. Naksir ya naksir, tapi nggak gitu juga dong!

Lebih parah lagi, ketika ia diingatkan SJW berinisial Hanoman tadi, eh malah SJW itu ditangkap dengan tuduhan makar. Tentu saja, si SJW tak bisa berkutik karena penggerebekan dilakukan oleh sekian ribu tantara lengkap dari satuan intel, brimob, hingga pamong projo nya buto.

Kabar baiknya, sebagai SJW kelas kakap, Hanoman sakti mandraguna. Tak ada yang ia takuti. Bahkan Rahwono yang terkenal kejam ini pun ia berani hadapi.

“Woi cupu! Sini lepasin gue. Beraninya bentak-bentak doang. Kalau cuma itu gue juga bisa anj..!!”

Belum selesai Hanoman bicara memecah keheningan pendopo, ia keburu dibungkam buto yang bertugas menjaga kurungan.

“Woi..” lirih si buto sambil menarik ekor Hanoman dengan setengah ketakutan.

Namun apa lacur, suara lantang Hanoman terdengar seisi ruangan. Rahwono tersengat. Ia menghampiri kurungan Hanoman. Dilihatnya dari dekat siapa sebenarnya SJW sialan itu. Seumur hidup Rahwono, tak pernah ada yang berani mengatainya dengan perkataan begitu.

Hanoman berdiri, membenahi diri, balik menatap tajam mata bengis Rahwono. Ternyaa benar, ia pemberani sejati, bukan SJW kelas teri.

“Apa maumu?” suara Rahwono kembali terdengar setelah bentakan terakhirnya pada Kumbokarno tadi.

“cuhhhh!!!”

Ludah Hanoman menyembur tepat ke muka Rahwono. Suatu pemandangan yang benar-benar asing terjadi. Sang Raja Diraja Alengka direndahkan, bahkan tak sekadar dengan kata-kata. Semua hadirin, buzzer, tamu undangan dari kerajaan tetangga, hingga para perwakilan partai pendukung Alengka, semua terkaget-kaget akan keberanian Hanoman.

Kemarahannya Rahwono memuncak. Tubuhnya terlihat gemetar. Tangannya tergenggam erat-erat. Seolah ingin langsung membogem kepala Hanoman. Dengan mata terpejam terbasahi ludah, ia mengambil pilihan hukuman paling menyiksa untuk Hanoman.

“Bakar kera bangsat ini hidup-hidup!!!!!”

“Sendiko dhawuhhh, Gusti!!!!”

Pendopo kembali riuh.

Enggar Amretacahya
Menulis Mencari Ilmu dan Berkah. Pedagang di Surabaya           

Posting Komentar

1 Komentar

Comments
Comments