Rehat: Kadaluarsa Menikah

PERCIK.ID- Ada seorang teman yang bercerita panjang lebar soal umurnya yang sudah berada di ambang tak lagi "sunnah" untuk menikah.

Meski pada sunnah yang lain ia tidak begitu minat, tapi pada sunnah menikah ini ia keukeuh ingin menunaikannya.

"La Rosululloh saw. itu menikah di umur 25, lo. Mau sunnah yang mana lagi kalau bukan ini" Katanya.

Saya pun mendengar keluhannya dengan seksama. Bahwa pancaran wajahnya memperlihatkan keinginan besar untuk segera menikah, itu jelas sekali mimiknya. Ia sudah berulang kali melangkah dan berusaha merealisasikan keinginannnya, tapi selalu saja gagal dan kandas saat ia mulai yakin melangkah ke pelaminan.

Selain keinginan besarnya segera menikah, ia juga trauma dengan riwayat cintanya yang buruk. Berulang kali tersayat dan tersakiti membuatnya berpikir berulang kali untuk mencoba lagi. Ia tak ingin menumpuk luka yang makin lama makin terasa perihnya, yang padahal, sudah ia anggap masa purba.

Untuk menenangkannya, saya ajak ia ngopi yang bukan tidak dari produk Kapal Api. Dari sini kemudian saya tau, bahwa kopi tak bisa menenangkan orang yang sering sakit hati dan ingin segera rabi.

Atau barangkali saya salah memberinya kopi?

Bisa jadi. Seharusnya saya beri ia Kopi Java Ijen KanjengGuru, produk bapack Ali Wicaksono Adityo. Barangkali kopi itu punya kans meredakan luka, duka, dan lara yang menderanya begitu lama.

Sekali lagi, tak ada efek ketika saya memberinya kopi yang bukan tidak dari produk Kapal Api itu. Ia masih saja grusa-grusu mencari solusi rabi secepet mungkin tanpa ada resiko kandas sebelum bertengger di pelaminan. Itu yang membuat saya repot bukan main untuk memberinya solusi.

Sepengalaman saya yang juga belum menikah, masalah macam itu agaknya bukan perkara mudah. Kecuali ia mau sat-set dengan usaha dan do'a yang tak kenal putus asa. Sebab setelah ia hitung, perempuan yang pernah memberikan harapan padanya dulu kini satu persatu sudah mulai mendapatkan jodohnya.

Itu menjadi pukulan telak untuknya. Sebab sesungguhnya ia ingin memamerkan istrinya, dan menunjukkan bahwa ia mampu mendapatkan istri betulan, tanpa ada PHP-PHP lagi.

Na'asnya, keinginannya berbuah sebaliknya. Ia tak kunjung menemukan jodoh, sedang hampir seluruh mantannya sudah sold out.

Misi memamerkan istri dan berharap membuat mantan-mantannya menyesal pupus sudah. Kini obsesinya menikah bergeser pada hal-hal lebih primer. Menuruti hasrat kelelakian serta menunaikan sunnah rosul, termasuk obsesinya menikah di umur dua lima.

Saya yang juga tak punya jalan keluar untuknya akhirnya hanya memberikan nasihat untuk sedikit bersabar dan meyakinkan bahwa jodoh sudah ada yang mengatur siapa dan kapannya. Jangan risau. Begitu kataku.

Tentu saja itu basa-basi belaka. Sebab sebenar-benarnya, saya juga terus diojok-ojok'i oleh Mama untuk segera rabi di umur yang sudah kadaluarsa lama untuk menjalankan ngibadah menikah di umur dua lima sebagaimans ketika KanjengNabi menikahi Ibunda Sayyidah Khodijah.

Alasan kenapa saya bisa tenang mendengar curhatnya adalah sebab suatu alasan yang sungguh logis. Tentu karena ternyata saya punya teman yang tak lama lagi akan mewarisi nasib yang sama dengan saya. Gagal menikah menikah di umur dua lima, dan sebentar lagi ia akan merasakan sensesi diomeli emaknya tanpa ba-bi-bu, bak dar-der-dor senapan sekutu yang menembaki sekutunya sendiri.

Tertanda


Bukan Saya

Ahmad Yusuf Tamami
"Penulis Rubrik Suluh Majalah MAYAra" fb  

Posting Komentar

1 Komentar

Comments
Comments