Icikiwir Kurikulum Rumah Tangga

 

PERCIK.ID- Tentu saja, dengan segala kepongahan model saya ini, ada satu dua aturan yang saya tetapkan terkait penempatan media hiburan di rumah, yang belakangan makin kesini makin kelihatan sekadar sok-sok-an saja. Tak lebih dari itu.

Misalnya, saya nggak mau ada tivi di rumah. Tentu soal urusan rumah begini, peran dan kesepakatan dengan Ibu Negara tak mungkin dikesampingkan. Mustahil saya mengambil keputusan sendiri, sak karepe dhewe untuk urusan omah. Ha wani po dinengke dan dipecuconi!

Soal tivi tadi, pada akhirnya toh kita punya juga. Prek sekali memang alasannya. Ketika itu, kami ‘terjebak’ motivasi mulia untuk menolong sales Ind*hom* yang memelas-melas agar dibeli dagangannya. Dan, ya, kita ambil paketan internet itu, tentu saja dengan konsekwensi harus menyediakan tivi di rumah. Haish!

Meskipun kemudian saya bisa berdalih bahwa tivi itu jarang dipakai, fakta selanjutnya akhir-akhir ini makin menunjukkan bahwa kebijakan hiburan tanpa tivi tadi cuma omong kosong belaka. Mirip-mirip dengan janji dan program pemerintahan negara nganu itu.

Tujuan saya menetapkan rumah tanpa tivi ini adalah dalam rangka menghindarkan anak -dan lebih-lebih orangtua tentunya- dari berbagai kebodohan unfaedah yang lalu lalang di dalamnya. Lebih dari itu, kalaupun kita bisa memilah-milah acara, tivi ini bisa jadi candu yang membunuh produktifitas dan ketajaman berpikir. Begitu kurang lebih niatan mulia saya.

Intinya, saya ingin membentuk atmosfer yang kondusif di rumah. Itu saja. Sebab kata orang-orang pintar, tumbuh kembang anak-anak banyak bergantung juga dari lingkungannya, selain pastinya soal bakat dan fadhillah juga amat menentukan. Tapi toh logis juga kan, bibit unggul sekalipun, harus ditempatkan pada ekosistem yang sesuai supaya ia bisa tumbuh subur. Ekosistem itulah yang sebisa-bisa mungkin saya suasanakan di rumah kami.

Tapi jebulnya, sekalipun saya jarang nyetel tivi, musuh besar kami mewujudkan harapan tadi terhalang oleh karang besar yang disebut handphone!! Hajinguuuuk, susah bener Lur lepas dari hape itu. Ya nggak? Ya nggak? *golekbolo

Dalih saya tentu beragam dan sangat realistis. “Bapak lagi kerja, Nak. Sik sebentar ya. Habis ini Bapak bacain bukunya”. Lalu dua jam berlalu tanpa terasa. Ya Alloh, mesakne anakku.

Saya kadang menyesal bener kalau kemudian sekelebat-sekelebat ingat wajah anak saya yang berharap diajak bermain ketika saya nggethu dengan gawai. Kepolosannya, rengekan-rengekannya, atau tawa riangnya yang nggak sepenuhnya saya pedulikan. Ah bangsat, saya jadi sedih nulis ini.

Tapi kayaknya, saya ini pengecut juga. Atas ketidaktercapaian saya mewujudkan rumah yang kondusif, atau kemudian kebiasaan anak saya yang sekarang setiap makan musti sambil nonton YuTub, saya salahkan keberadaan hape, tivi, atau keadaan-keadaan.

Harusnya bukan kesana saya marah, yang harus dipisuhi itu ya dapuran dan raiku dhewe iki. Asu...asu...

Enggar Amretacahya
Menulis Mencari Ilmu dan Berkah. Pedagang di Surabaya           

Posting Komentar

1 Komentar

Comments
Comments