Belanggur di Nyamplungan

 

Judul: Belanggur di Nyamplungan

Penerbit: percik.id (Divisi CV. Multi Guna Usaha)

Jumlah Hal: 88 

Jumlah Cetak: 100

ISBN : Sedang diajukan


Pemesanan:  0821-3991-5205



Sebagai awal untuk berhadapan dengan buku kumpulan
puisi itu, marilah saya kenalkan dengan sosok Yusuf Achmad.
Sosok yang saya kutip dari biodata yang telah disematkan
di buku, yaitu: lahir di Surabaya pada 09 Desember 1965.
Menyelesaikan seluruh jenjang pendidikannya di Surabaya,
Menikah dan dikaruniai dua putra dan empat cucu. Bekerja
sebagai pengajar (guru dan dosen) di Surabaya. Beberapa
cerpennya termuat di buku kumpulan cerpen guru dan siswa
SMK Satya Widya. Sedang, kumpulan puisi tunggalnya (dwi
bahasa) adalah: Dan Hantu Hantu Palsu Kupinjam. Sampai saat
ini menjadi kolumnis majalah Mayara.


Di buku kumpulan puisi itu, Yusuf Achmad menampilkan
sekitar 50 puisi. Dari sekitar 50 puisi itu, jika saya simak lebih
dalam, menampilkan lima peristiwa. Peristiwa masa remaja,
masa percintaan, masa mulai lansia, masa bepergian ke kota
lain, dan masa ketika mesti hidup di daerah Nyamplungan
di Surabaya. Daerah yang dikenal sebagai yang dihuni oleh
penduduk Arab atau yang biasa disebut sebagai jamaah. Dan
ternyata lewat satu puisinya, Surga Jamaah atau Jawa, secara
eksplisit, bahwa Yusuf Achmad adalah seorang keturunan
jamaah (Arab) dengan Jawa.


Entah, ini titah sudah tumpah. Pada hidupku berubah-ubah Ini
bukan masalah sekolah, kerja. Atau hal-hal biasa.

Ini luar biasa. Karena aku dianggap bukan orang biasa. Ketika di
keluarga dari ayah. Kata mereka aku tak serupa.
Mereka bilang, “Kau Jamaah.” Kemudian kelakar bersambung.
Katanya wajah ayah bukan Jawa. Setelah ibuku dinikahinya.


Seorang keturunan yang kerap menerima peristiwa yang
berubah-ubah. Peristiwa yang kerap menyebut dirinya sebagai
bukan orang biasa. Sebab tak serupa. Tapi apakah ini membuat
Yusuf Achmad masgul. Ternyata tidak. Yusuf Achmad, lewat
puisi berikutnya, Puisiku Menjadi Budha, pun berkata dengan
tegas semacam ini:


Puisi tetap peduli. Meskipun tak dipeduli. Lalu kusapa ia senang.
Berpesan tak perlu khawatir.


Lurus-hati pandang, tak perlu goyah. Jati-diri pasti, terukir-jiwa asal
bening tak tercemar. Tiba-tiba puisi berubah wujud. Ia menjadi
Budha.


Berjubah berlian kata-kata. Puisiku bersinar dalam kitab suci.
Puisiku menjadi Budha

 


Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama