PERCIK.ID- Bashiroh adalah suatu hal yang dianggap penting, Al Qur’an mengabadikannya dalam beberapa ayat, di antaranya ada pada surat Yusuf ayat 108, Nabi Muhammad saw pun demikian, dalam sabdanya, beliau menyebutkan:
مَا مِنْ عَبْدٍ اِلّا وَ لِقَلْبِهِ عَینَانِ، هُما غَیبٌ ینْظُرُ بِهِما الغیبُ فَاِذَا اَرَادَاللَّهُ تَعالَی بِعَبْدٍ خَیراً فَتَحَ عَینَی قَلْبِهِ فَیری مَا هُوَ غَائبٌ مِنْ بَصَرِهِ
“Tiadalah seorang hamba kecuali hatinya memiliki dua mata; kedua-duanya gaib yang dengannya ia melihat gaib. Dan ketika Alloh swt. menginginkan kebaikan pada seorang hamba maka Alloh membukakan kedua mata hatinya sehingga ia melihat sesuatu yang tidak tampak dari pandangan matanya”.
Bashiroh bahkan disebutkan sebagai sesuatu yang harus diminta dalam do’a. Wa bashirotan fii diinii, wahai Alloh, karuniakan aku bashiroh dalam agamaku. Hal ini menunjukkan betapa pentingnya keberadaan bashiroh dalam hidup dan kehidupan manusia, terutama untuk pelajar yang terus bergerak, berprogres mencari metode hidup yang terarah dengan baik.
Bashiroh (basirah) sebagaimana diartikan Kamus Besar Bahasa Indonesia, adalah meninjau, mempelajari sesuatu dengan baik dan memprioritaskan mata hati. Hal ini satu garis lurus dengan bashiroh dalam pandangan riwayat, ia adalah mata hati, mata batin yang nantinya akan diposisikan sebagai mata yang melihat pelbagai persoalan dengan kacamata hakikat. Bashiroh adalah manifestasi dari al Haqq, sehingga tidak mengherankan jika nabi mengajarkan sebuah do’a yang memohonkan bashiroh untuk setiap sendi tubuhnya,
اللهم اجْعَلْ لِي نُورًا فِی قَلْبِی وَ نُورًا فِی سَمْعِي وَ نُورًا فِی بَصَرِي وَ نُورًا فِی لَحمِي وَ نُورًا فِی دَمِي وَ نُورًا فِی عظَامِي وَ نُورًا مِنْ بَینَ یدَي وَ نُورًا فِي خَلْفِي وَ نُورًا عَنْ یَمِیْنِي وَ نُورًا عَنْ شِمالِي وَ نُورًا مِنْ فَوقِي وَ نُورًا مِنْ تَحْتِي. اللهم زِدْنِي نُورًا وَاَعْطِنِي نُورًا وَاجْعَلِنِي نُورًا بِحَقِّ حَقِّكَ یَا اَرْحَمَ الرَّاحِمِینَ
“Ya Alloh, jadikanlah cahaya pada hatiku, cahaya pada pendengaranku, cahaya pada penglihatanku, cahaya pada dagingku, cahaya pada darahku, cahaya pada tulangku, cahaya di arah depanku, cahaya di belakangku ,cahaya di kananku, cahaya di kiriku, cahaya di atasku dan cahaya di bawahku. Ya Alloh, tambahkanlah cahaya bagiku dan karuniailah aku cahaya dan jadikanaku sebagai cahaya demi hakMU yang agung wahai yang MahaPengasih di antara yang mengasihi”.
Do’a senada yang disebutkan Kholifah Umar ibn Khoththob dan tercatat dalam Ibnu Katsir dalam penjelasan QS Al Baqoroh 213 adalah
اللَّهُمَّ أَرِنَا الْحَقَّ حَقًّا وَارْزُقْنَا اتِّبَاعَهُ، وَأَرِنَا الْبَاطِلَ بَاطِلًا وَارْزُقْنَا اجْتِنَابَهُ، وَلَا تَجْعَلْهُ مُلْتَبِسًا عَلَيْنَا فَنَضِلَّ، وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا
"Ya Allah tunjukkanlah kepada kami yang benar itu benar dan bantulah kami untuk mengikutinya, dan tunjukkanlah kepada kami yang batil itu batil dan bantulah kami untuk menjauhinya. Janganlah Engkau menjadikannya samar di hadapan kami sehingga kami tersesat. Dan jadikanlah kami pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa."
Hal ini menunjukkan betapa pentingnya bashirah, namun kendatipun demikian, mata batin tidak akan dapat terbuka dan difungsikan apabila kita terjerembab pada satu hal: syahwat. Romo Yai Rori juga acapkali menyebutkan bahwa perbuatan-perbuatan yang dimotori oleh syahwat akan menyebabkan kita melakukan apa-apa yang berbasis haram, dan perbuatan itulah yang membutakan mata hati kita.
Dalam sebuah hadits, nabi saw bersada,
أَلَا إِنَّ فِي الجَسَدِ مُضْغَةً إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الجَسَدُ كُلُّهُ, وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الجَسَدُ كُلُّهُ؛ أَلَا وَهِيَ القَلْبُ
“Ingatlah, dan sesungguhnya di dalam hati itu terdapat segumpal darah. Jika ia baik, baik (pula) seluruh tubuh. Dan bila ia rusak, rusak pula seluruh tubuh. Ketahuilah, ia adalah hati.”.
Hati yang mati juga disebabkan oleh sembrononya apa-apa yang masuk ke dalam aliran darah, karenanya nabi menghimbau betul agar tidak memakan perkara yang haram, wa fii riwayat, beliau menghimbau agar umatnya tidak menelan apa-apa yang sifatnya syubhat. Apa-apa yang tidak jelas halal dan haramnya, apabila dalam implemtasinya dihantui perasaan ragu-ragu, maka tinggalkanlah! Sebab, apa yang halal itu jelas, dan apa yang haram juga jelas.
Apabila hal dasar ini dapat diterapkan pelajar muslim, efektifitas yang dapat dihasilkan mungkin akan membawa dunia pendidikan ke arah yang jauh lebih baik dan keluar dari stagnansi keilmuan yang bergelayut sampai hari ini.
