Khataman Ramadan: Kiai, Santri, dan Tertidur saat Ngaji

PERCIK.IDBanyak istilah yang beredar di kalangan santri tentang tradisi mengkhatamkan kitab saat bulan Romadlon. Ada yang menyebutnya dengan nama ngaji pasan (mengaji saat puasa), juga ada yang menyebut ngaji khataman (mengaji langsung selesai), hingga sebutan khataman Romadlon (mengkhatamkan kitab tertentu dalam waktu satu bulan ketika Romadlon). Karena memang ditargetkan dapat selesai dalam waktu satu bulan, sistem pembacaannya pun memang cenderung dikebut. Sebagai seorang santri yang pernah merasakan sensasi khataman Romadlon, tentu saja saya merasakan secara live pengalaman unik dalam tradisi tersebut. Dalam khataman Romadlon, ngaji yang biasanya satu jam bisa menjadi dua jam agar kitab yang dibaca selesai tepat saat liburan pondok menyambut Idul Fitri. Tak jarang saya dan kawan-kawan harus mensyarahi (istilah untuk memaknai kitab berbahasa Arab dengan Arab pegon) dengan posisi tengkurap karena lelah dengan posisi duduk.

Jika sudah di ujung rasa lelah; letih; lesu (gegara menahan lapar maupun dahaga dalam berpuasa), saya dan beberapa kawan lainnya akan menidurkan diri di samping kitab yang terbuka. Kami akan terbangun di saat Sang Maha kuasa kembali memberikan kesadaran. Terkadang saat ngaji sudah selesai dan terkadang juga saat suasana mendadak sunyi karena ngaji telah selesai beberapa waktu yang lalu. Seperti inilah gambaran singkat tentang tradisi unik khataman Romadlon, namun di atas itu semua, satu hal yang ingin diperoleh lewat tradisi ini adalah keberkahan dari bulan suci Romadlon. Selain keunikan para santri, satu hal yang tidak boleh luput dari tradisi ini adalah ketulusan Kiai dalam mengajar santri. Pengalaman ini yang yang tak akan pernah dilupa seumur hidup, sebab Kiai saya waktu itu rela tetap membacakan kitab dengan berdiri gegara menahan rasa kantuk.

 

Ketulusan Kiai

Pada umumnya, kitab-kitab yang dikhatamkan memang kitab-kitab berukuran tipis agar dapat khatam tepat waktu. Namun tak jarang beberapa kitab yang ‘lumayan’ tebal juga dijadikan agenda khataman Romadlon. Biasanya kitab-kitab tipis diajarkan oleh para ustaz, sedangkan kitab yang lumayan tebal dibacakan secara langsung oleh Kiai. Kala itu, kitab lumayan tebal yang dibacakan oleh Kiai saya adalah Mauidhatul Mu’minin karya Syaikh Muhammad Jamaluddin al-Qasimy yang merupakan ringkasan Ihya’ Ulumuddin karya Imam al-Ghazaly. Kitab ini dikaji setiap pasca salat Duhur dan harus selesai dalam waktu dua puluh satu hari, karena malam dua puluh tiga Romadlon biasanya sudah persiapan libur hari raya.

Atas polemik inilah, Kiai saya dengan tulus membacakan kitab Mauidhatul Mu’minin dalam porsi ‘gemuk’. Hampir setiap hari kitab dibacakan hingga menjelang adzan salat Ashar dan berkali-kali pula Kiai saya sempat tertidur beberapa saat karena kelelahan. Saat terbangun, Kiai kembali melanjutkan pembacaan. Begitu seterusnya jika rasa kantuk yang teramat berat kembali muncul. Jika sudah berada di puncak kantuk yang tak lagi bisa ditahan, Kiai saya akan berdiri dan tetap membacakan kitab. Semua ini dilakukan semata-mata agar kitab bisa selesai tepat waktu dan para santri bisa bernapas lega karena bisa segera merasakan liburan. Meskipun tanggal liburan telah tiba, santri tetap tidak bisa pulang jika kitab yang dikaji belum khatam. Mengingat masa itu, membuat saya kembali rindu tertidur saat mengaji dan berdebarnya menanti hari raya Idul Fitri.

Kini saya telah berada di rumah sebab sudah lama selesai menamatkan pesantren dan tetap menjadi santri sebagaimana kali pertama bertemu Kiai.


Akhmad Idris

Dosen di Sekolah Tinggi Ilmu Bahasa dan Sastra Satya Widya Surabaya.

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama