17 Menit Yang Panjang

PERCIK.ID- Saya baru saja menyelesaikan sebuah film pendek berdurasi 17 menit berjudul “Wahyu” di sebuah platform streaming digital ketika menuliskan ini. Durasinya memang pendek, tapi dampak yang berhasil diciptakan oleh film ini terasa panjang.

Bercerita tentang seorang santri pindahan bernama Wahyu ke sebuah pesantren tradisional, dengan kamar petak sempit, dipengkapi lemari kayu reot berbentuk persegi. Baju, sajadah, sarung yang bau tengik itu jadi pelengkap dekorasi, seperti etalase seni rupa abstrak yang dikerjakan sekenanya.

Wahyu adalah santri yang cukup tampan dan simpatik sejak awal diperkenalkan kepada teman-teman sekamarnya. Ia ramah dan mudah bergaul. Tapi toh penampilan seringkai menipu.

Suatu malam, ketika kamar sempit itu dipenuhi suara dengkuran yang saling bersahutan, Kholis, salah seorang penghuni kamar yang tunawicara yang paling rajin salat malam itu terhenyak ketika nglilir dari tidurnya. Di hadapannya, terpampang adegan yang belum pernah dilihat dan bahkan dibayangkannya. Wahyu, santri baru itu, melepas sarungnya dan menyetubuhi seorang teman sekamarnya yang sedang terlelap. Dengan perasaan yang campur aduk, Kholis memilih berpaling dan memaksa diri melanjutkan tidur. Meski tak bisa.

Peristiwa yang sama, kembali terulang pada malam berikutnya. Kholis mengambil wudhu untuk salat malam, kran air itu rusak, airnya nyiprat dan mebasahi bajunya. Dengan sedikit tergesa ia berjalan menuju kamar untuk mengambil baju ganti. Betapa kagetnya ketika dilihatnya adegan yang sama seperti kemarin dari dalam kamar yang pintunya sedikit terbuka itu. Kebetulan dilihatnya kang pondok di depan musalla akan bertahajjud juga, mulutnya tak bisa diandalkan untuk melapor, dadanya berdetak tak karuan, ia tak tahan lagi membiarkan kemaksiatan ini terjadi. Diseretnya kang pondok dengan paksa, tapi Wahyu bukan seorang amatir, telinganya telah terlatih untuk mendengarkan potensi bahaya, benar saja, ketika Kholis dan kang pondok sampai di kamar, pemandangan yang terlihat hayalah geletakan santri yang sedang adu ngorok.

“Wahyu” adalah visualisasi yang tidak hanya cinematic, tetapi juga dengan jujur berhasil menggambarkan desas-desus tentang sisi gelap pesantren yang telah lama mengemuka yang disebut mairil. Jelas ini bukan film yang nyaman ditonton, utamanya bagi santri dan alumni pesantren. Kasus kekerasan seksual dengan beragam variasinya itu fakta. Mengakui kebenaran, untuk kemudian berbenah memang akan terasa tak nyaman. Bahkan merepotkan.

Kholis seolah simbol dari korban pelecehan seksual yang dibungkam suaranya. Yang suaranya tak pernah benar-benar berusaha didengar dan dimengerti. Pesantren sebagai tempat iman ditempa, moral dan budi pekerti diajarkan, di waktu yang bersamaan bisa berubah jadi tempat subur meyemai bibit kemunafikan. Dalil-dalil agama dimanipulasi dengan menjijikkan.

Nama baik pesantren, nama baik kiai, nama baik gus, selalu lebih utama dibanding martabat seorang manusia yang dilecehkan. Persoalan ini tak pernah benar-benar ditangani dengan semestinya. Banyak pesantren masih gagap dan tidak punya prosedur yang terukur menangani kasus-kasus serupa, apalagi memiliki sistem pencegahan. Jauh. Faktanya, kalau kita membaca kasus serupa di berita, banyak korban justru medapatkan intimidasi dan pembunuhan karakter, jika kasusnya menyeret nama pemilik pesantren.

Akhir film menggambarkan dengan sangat bagus bahwa ketidakbecusan pesantren-pesantren untuk jujur mengakui fakta yang terjadi dan mulai berbenah, tidak akan meyelesaikan persoalan. Persis seperti bola salju yang tidak dihentikan, lambat laun kasus-kasus pelecehan seksual ini akan jadi badai salju bagi pesantren sendiri. Jika sudah demikian yang paling dirugikan?

“Wahyu” sebagai judul yang dipilih, pastilah memiliki tujuan. Pernah dengar penceramah yang bilang bahwa “Nabi diberi wahyu untuk menuntun kita dari kegelapan menuju cahaya”? Kegelapan harus diakui dan disadari sebelum cahaya bisa kita terima. Maukah kita? Marah-marah dan menyebutnya tuduhan dan penistaan memang lebih mudah sih.

Syafiq Rahman
Freelence Writer & Pedagang Buku "Makaru Makara"  fb          

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama