Profesionalisme Berbatas

PERCIK.ID- Hampir-hampir saya merusak keheningan bus yang biasa berangkat mengantar kami menuju tempat training di daerah terpencil sudut kota Oklahoma. Tapi polah dan teriakan saya tertahan oleh kesungkanan, khawatir kalau-kalau bengak-bengok saya itu semakin merusak nama Indonesia di mata teman-teman dari negara lain.


Hari memang masih terlalu dini untuk kami berangkat ke tempat training. Kisaran 6.30 pagi bus sudah berangkat. Benar-benar 6.30 tet! Tidak lebih tidak kurang, pintu bus ditutup, pedal gas diinjak oleh driver sewaan perusahaan. Di sela duduk sambil riyep-riyep menuntaskan tidur yang belum selesai, betapa kaget saya melihat adegan satu teman yang tergopoh-gopoh berlari berusaha mencapai pintu bus.

Kontan saya mak jegegal bangun, mata saya terbelalak, mencoba melihat jam, dan benar saja 6.30. Euh.. Ketika saya menengok ke arah Pak Supir yang juga sudah pasti melihat teman saya yang gupuh itu, pintu bus tetap ditutup, bus tetap perlahan cuek berjalan. Komitmen dan profesionalitas rupanya adalah barang mahal buatnya yang tidak bisa disepelekan sedetikpun. Walaupun dengan alasan ‘ah nggak sampai satu menit’. Walhasil, teman saya itu hanya beroleh keringat dan megap-megap.

Pada titik itulah perasaan saya berkecamuk tidak terima. Ini serius begini amat nih?!

Sebagai manusia Indonesia sejati, saya jujur kaget melihat kejadian tersebut. Kagum sih tidak. Saya hanya tidak habis pikir, apakah profesionalisme harus diterapkan sedemikian leterlijk sehingga benar-benar tidak ada ruang toleransi sedikit saja?

Sepanjang perjalanan, saya berandai-andai, bagaimana jika adegan itu terjadi di Indonesia? Kita mungkin sama-sama bisa menebak jawabannya. Mbok ya ditunggu sebentar, kan kasihan. Kalaupun Pak Supir nekat berangkat karena sangat profesional, paling kita-kita akan beramai-ramai memusuhinya, walaupun secara diam-diam dari belakang.

Kemanusiaan manusia Indonesia sangatlah kental. Toleransi kita juga barang sehari-hari yang mudah sekali didapati. Jangankan perkara waktu satu dua menit, uang atau barang saja kita rela berbagi untuk sesama jika memang diperlukan. Kita tidak memerlukan energi berlebih untuk sekedar peduli dan saling membantu. Mungkin inilah kenapa, kata Bapak Bangsa, nilai utama bangsa kita adalah gotong royong.

Namun disatu sisi, jangan-jangan budaya kita yang begitu toleran dan manusiawi seperti itu adalah pintu gerbang masuknya ekses buruk seperti teledor, acak-acakan, tidak tepat waktu, sampai bahkan mungkin yang paling kronis seperti nepotisme dan korupsi. Sebab profesionalisme masih nomor sekian buat kita. Kalaupun kita berusaha professional, rupanya kita masih betah dalam atmosfer kultural.

Hingga hari ini, kontradiksi antar keduanya masih menjadi pertanyaan yang belum terjawab bagi saya. Di era yang terus melaju menuju masyarakat industrialis, kita dituntut untuk bisa professional, untuk cepat dan tepat, bekerja sesuai aturan dan jobdesc sehingga terbentuk sistem yang amat fungsional dan individualis. Sedangkan, itu semua, jika kita mau jujur, seringkali tidak cocok di hati.

Kita lebih bahagia dengan kaidah ‘alon-alon waton kelakon’, atau bahkan mungkin, ‘mangan ora mangan sing penting kumpul’, dan hal-hal semacamnya. Sudah barang tentu tidak mungkin kita ngotot untuk memaksakan kehidupan konservatif seperti itu. Jika demikian, berarti sama halnya dengan penerapan profesionalisme buta seperti cerita di atas.

Ya professional tetap professional, tapi juga ya manusia tetap manusia.

Ngono yo ngono, ning ojok ngono...


Enggar Amretacahya
Menulis Mencari Ilmu dan Berkah. Pedagang di Surabaya           



KOMENTAR

0 Komentar

BACA JUGA TULISAN YANG LAIN