Mendendangkan Cinta dan Kutu yang Menyanyi Diantara Seribu Helai Rambut Ahmad Albar

PERCIK.ID- Sejak kapan kegemaran mendengarkan musik itu saya miliki? Untuk mendapatkan jawabannya, saya musti kembali mengingat-ingat lagi ke belakang, ketika tersiar kabar Nike Ardilla mati dalam kecelakaan, tiba-tiba saya menangis begitu saja. Koleksi kaset pita yang tak bisa saya banggakan jumlahnya itu jelas tidak menjelaskan kecintaan saya terhadap musik, tetapi kepada Nike Ardilla, saya tak bisa mengelak tak mencintainya. Air mata kanak-kanak itu cukup sebagai tanda.


Yang masih bisa saya ingat, selain mendengarkan Nike Ardilla, saya juga mendengarkan Cak Nun & Kiai Kanjeng, yang sudah kesohor namanya ketika itu di album "Menyorong Rembulan" dengan single "Lir-Ilir" dan album "Allah Merasa Heran" yang puitis. Saya juga punya koleksi kaset pitanya Haddad Alwi & Sulis dengan single "Ummi" yang nampaknya dihafal ibu-ibu sekaligus anak-anaknya ketika itu, saking terkenalnya.

Sebenarnya kaset-kaset itu tak sepenuhnya milik saya. Di desa kecil di bagian selatan Kota Tuban, bukan hal yang mudah dan murah mendapatkan kaset-kaset itu. Kakak lelaki saya satu-satunya lah yang mebawanya, ketika pulang dari pondok untuk berlibur. Barangkali, kaset Nike Ardilla itu dia juga yang bawa, tapi karena dia telah jadi kiai sekarang, agak sungkan mendakwanya begitu meski dalam ingatan. Meski, apa salahnya juga kiai menyukai lagu-lagu Nike Ardilla atau dangdut koplo misalnya. Bukankah itu cuma sepercik kesegaran dari luasnya samudera keajaiban Tuhan di kerajaan bumi-Nya yang bisa digunakan membasuh-segarkan wajah kusut hamba demi menemukan dan menatap wajah pencipta semesta di balik tiap-tiap benda dan fenomena?

Seni dalam wawasan estetika sufi adalah sarana meditasi dan kontemplasi yang berfungsi selain sebagai peningkatan kualitas rohani juga sebagai pemulihan jiwa dari penatnya kehidupan dunia. Dikenal dengan istilah tajarrud yang secara harfiah berarti telanjang. Menanggalkan beban-beban, melepaskan jiwa dari jerat-jerat duniawi yang membuatnya tersiksa dan tak nyaman. Musik adalah salah satu produk kesenian yang diolah dari bunyi.

Kita mengenal nama Jalaluddin Rumi, yang memakai media musik dan tari sebagai ekspresi cinta hamba kepada Tuhan. Rumi meniup seruling, menabuh rebab dan tabla serta menggesek biola. Ia sekaligus adalah seorang penyair dan komponis. Musik mengalun, puisi dibaca, kemudian meresap ke dalam jiwa-jiwa kosong yang telah mempersiapkan dirinya diisi satu asma; Dia.

Musik juga merupakan salah satu sarana terapi yang digunakan oleh Ibnu Sina untuk mengobati pasien sakit jiwa. Kini metode tersebut nampaknya telah berkembang pesat. Hari ini kita menyaksikan anak-anak muda diajak oleh Didi Kempot untuk menerapi hati yang sakit dan jiwa yang ambyar dengan berjoget dan bersenang-senang dengan iringan tabuhan gendang dan koor cendol-dawet, cendol dawet.

Tak hanya berfungsi sebagai media meditasi dan kontemplasi demi matangnya kualitas rohani dan jiwa, musik terbukti memberi energi lebih pada jasmani. Coba terka berapa usia Rhoma Irama? Iwan Fals? Bapak saya yang seusia Rhoma kerap kali masuk angin kalau telat tidur dan terpaksa begadang sambil hoak haek. Mereka berdua mungkin sama juga, tapi ketika tampil bersama di panggung tempo hari, usia sepertinya sekadar angka. Mereka menularkan semangat dan energi hidup kepada banyak orang yang menonton dan mendengarkannya.

Meski begitu, bapak saya adalah penikmat musik juga; musik paling indah dari yang paling indah. Kalam Tuhan yang ia "nyanyikan" selepas petang dan ia "nyanyikan" lagi menyambut pagi datang. Mengokohkan jiwanya, memberinya ketenangan batin di usia tuanya.

Saya sempat juga mendengarkan God Bless yang main live di studio Aquarius akhir tahun kemarin di yutub. Ahmad Albar usianya sudah lebih 70 tahun. Ian Antono dan Donny Fatah mungkin usianya juga tak jauh dari angka itu. Tetapi ketika mereka memainkan lagu "Kehidupan", benar-benar seperti remaja dengan gairah pemberontakan yang menyala-nyala. Musik membuat mereka awet muda layaknya buah persik milih permaisuri kahyangan di film Sun Gokong.

Ketika "Huma Di Atas Bukit" mengalun, jiwa berkelana ke ruang remang penuh kenangan. Dan diantara seribu helai rambut kribo Ahmad Albar itu, kutu-kutu ikut bernyanyi melantunkan lagu.

Ketika menulis ini, kawan saya mengirimkan sebuah rekaman video Iwan Fals menyanyikan "Belum Ada Judul", yang akunya mengingatkannya kepada masa lalu sewaktu "muda" dulu. Musik, menemukan satu lagi fungsinya. Ia mengikat kenangan dan merekatkan persahabatan.

Syafiq Rahman
Freelence Writer & Pedagang Buku "Makaru Makara"  fb          

1 Komentar

Lebih baru Lebih lama