Cara Menegur Kiai ala Mbah Cholil Bisri

PERCIK.ID- Akhir-akhir ini kita sering mendengar orang saling sindir tentang sesuatu, utamanya ketika berbeda pendapat. Bahkan tidak jarang saling sebut nama untuk menyampaikan sanggahan dan pandangan mengenai kesalahan yang dilakukan oleh orang lain. Ini tidak hanya terjadi pada orang biasa saja, tapi jelas juga dilakukan oleh orang yang sering memegang mic.

 

Alih-alih tabayyun dan meluruskan, orang yang memegang mic ini malah terkesan menyudutkan dan menyalahkan apa yang dilakukan oleh tokoh lain seperti tidak ada lagi cara yang lebih sopan dan elegan untuk menyampaikan pandangan pada sesama tokoh.

 

Tak ayal, hal ini sering menjadikan orang yang mengikuti menjadi bingung dengan apa yang dilakukan oleh panutan mereka. Ikut para tokoh tidak semakin jelas, tapi malah semakin keruh karena terus berbenturan dengan pihak lain, tanpa ada dialog empat mata yang punya kecenderungan lebih efektif dalam menuntaskan perselisihan.

 

Tidak sependapat dan berbeda pandangan jelas merupakan sesuatu yang lumrah. Akan tetapi cara menanggapi jelas lain lagi. Tidak semua bisa dikategorikan baik-baik saja. Sebab tanggapan yang diberikan atas suatu tesis biasanya makin memperkeruh keadaan.

 

Mengenai cara menganggapi beda pendapat, dan menegur ketika ada ada yang dirasa salah, KH. Cholil Bisri punya cara tersendiri dalam melakukannya. Kakak dari KH. Musthofa Bisri (Gus Mus) tersebut memilih dengan cara yang sungguh elegan dan jelas lebih sopan.

 

KH. Choli Bisri membagi menjadi 2 jenis Kiai, dengan cara menegur yang berbeda. Pada Kiai yang seumuran, beliau bisa langsung menegur dan menyampaikan pendapatnya mengenai apa yang tidak beliau setujui. Tapi cara tersebut ternyata tidak dilakukan kepada Kiai yang umurnya lebih sepuh atau dirasa lebih berkharisma lebnih tinggi derajatnya dibandingkan beliau.

 

Kepada kiai yang lebih sepuh, beliau menyampaikan sanggahan dan ketidaksetujuan kepada kiai lain yang umurnya lebih sepuh atau yang lebih berkharisma daripada yang ditegur. Bagaimanapun, sebagai orang yang ta’dhim pada Kiai, serta dibesarkan dalam budaya Jawa, menegur langsung jelas bukanlah sesuatu yang elok.

 

Beliau menyebut beberapa sosok yang tidak mungkin beliau menghadap langsung, misalnya kepada KH. Abdulloh Faqih, atau KH. Abdurrahman Wahid. Maka, menurut KH. Cholil Bisri, ketika beliau ingin mengingatkan Gus Dur, beliau melakukan dengan menyampaikan kepada KH. Khotib Umar untuk nuturi  Gus Dur.


Selain bisa disebut “nabok nyilih tangan”, cara ini memberikan kesan kesopanan karena tidak menyampaikan secara langsung, apalagi menebarnya lewat mic ketika berceramah.

Jelas ini teladan yang baik untuk mengkompromikan perbedaan tanpa harus mengumbarnya terlebih dahulu sebelum membicarakan dengan orang yang bersangkutan. Sebab distorsi cara dan media menyampaikan ketidaksetujuan sudah makin jauh dari etis. Cara menyampaikan macam apa yang dilakukan oleh sebagian tokoh sekarang membuat orang yang tidak mengerti apa-apa tiba-tiba menjadi pembenci mutlak bagi orang-orang yang sedang bersebrangan dengan junjungan mereka.


Tenyata cara yang sama digunakan oleh sebagian orang untuk nuturi Mbah Cholil Bisri pasca sang ayah, KH. Bisri Musthofa meninggal. Karena tidak ada yang berani menegur dan nuturi Mbah Cholil Bisri (termasuk Gus Mus menurut Mbah Cholil juga tidak berani menegur beliau secara langsung), maka orang memilih untuk madul pada sang Ibu, yakni Bu Nyai Hj. Ma’rufah Bisri. Sang Ibulah yang kemudian akan “mengeksekusi” wadulan-wadulan itu kepada putra pertamanya tersebut. 

Kita patut belajar dari KH. Cholil Bisri soal cara menyampaikan. Serta bisa belajar dari beliau soal bagaimana cara mengukur kapasitas diri untuk tahu batas dalam bertindak. 


Kiai pada kiai saja ada akhlaknya, yang tidak kiai pada Kiai lakok tidak pake etika.

 


Ahmad Yusuf Tamami Muslich
"Penulis Rubrik Suluh Majalah MAYAra" fb  
Tulisan yang Lain

Posting Komentar

0 Komentar