Istri Cantik Adalah Nalar Pikir

PERCIK.ID- Orang jawa punya ungkapan menarik untuk mengajarkan anak perempuan mereka menyapu dengan bersih. Ungkapan tersebut cenderung menakut-menakuti, tapi sedikit banyak tentu merasuki alam bawah sadar gadis-gadis jawa. Kata ibu-ibu mereka, “kalau tidak bersih, nanti suamimu brewok.” Barangkali brewok ketika itu merupakan gambaran keburukan laki-laki. Sekali lagi, barangkali!


Sebagaimana umumnya ungkapan jawa, seperti tidak ada korelasi sama sekali antara menyapu dan brewok. Tapi orang jawa memercayai kata itu sebagai sebuah ungkapan turun temurun dan mengakar kuat. Toh orang jawa memang sangat kuat memercayai perkara-perkara semacam itu. Bahkan soal-soal animisme-dinamisme juga masih dipegang beberapa kalangan orang jawa di jaman ini.

Di Surabaya, saya malah mendapatkan tambahan ungkapan semacam itu. Bedanya hal ini diperuntukkan untuk laki-laki. Jika perempuan menyapu tidak bersih akan mendapatkan suami brewok, laki-laki yang menyapu tidak bersih akan beristrikan perempuan rembes.

Untuk ungkapan yang ini, saya tidak tahu, apakah turun temurun juga, atau gubahan orang jawa kholaf sebagai mafhum mukholafah dari ungkapan sebelumnya.    

Bagaimanapun, saya adalah laki-laki dan tetap beharap bahwa istri saya adalah seorang perempuan yang cantik, meski sudah tidak lagi menjadi prioritas utama. Kalau cantik pun tak apa-apa. Kira-kira seperti itu.

Tapi ketika sudah berhadapan dengan semacam “justifikasi” bahwa menyapu atau bersih-bersih yang tidak bersih berefek pada wujud kecantikan seorang istri. Saya harus sedikit menyiapkan ruang untuk berpikir dan menela’ah. Sebab saya tahu dan sadar bahwa saya bukan teladan yang baik soal kebersihan. Meski begitu, saya tetap menerima andaikata istri saya nanti benar-benar cantik.

Ngiang-ngiang dan pertanyaan mengani korelasi logisnya pun akhirnya membuat saya menala’ahnya benar. Apa hubungannya? Akankah saya akan mendapat istri yang tidak cantik kelak sebab saya merasa tidak bisa bersih-bersih dengan bersih. Jika iya dan sebelum terjadi, barangkali saya harus mentransformasi diri dan berusaha berubah untuk lebih bersih. Tapi sekali lagi, apa hubungannya bersih dan brewok? Mistiskah?


Ada sebuah ungkapan masyhur mengenai hubungan laki-laki dan perempuan yang telah resmi bersanding. “Suami itu baju untuk istri, begitupun istri adalah baju bagi suami”. (Hal ini disinggung juga di dalam al-Qur’an)

Saya memaknai bahwa suami atau istri adalah pelengkap satu sama lain. Menjadi bagian yang saling menutupi dan saling menghias untuk menciptakan tata kehidupan yang baik.

Suami memahami bagaimana cara menghias diri dan menghias istri untuk menciptakan keserasian dan keindahan dalam mengarungi hidup. Begitupun sebaliknya. Dan barangkali sudah pernah atau bahkan sering kita dengar, “Ada perempuan hebat di balik laki-laki yang hebat”. Tentu ini juga berlaku sebaliknya.

Dari semua itu, saya semakin yakin bahwa sesungguhnya istri cantik adalah nalar pikir.

Kebersihan adalah runtutan dari nalar pikir. Nalar pikir yang menyukai dan biasa bersih akan mengarahkan seseorang untuk senantiasa hidup bersih. Dan kembali, suami adalah baju bagi istri, begitupun istri adalah baju bagi suami.

Seorang istri yang tidak besih dalam bersih-bersih sebab tidak biasa bersih akan membiarkan suaminya tidak terurus, bahkan sampai brewok suami tumbuh panjang pun tidak diperhatikan. Habbit hidup bersihnya tidak ada. Dan suami pun demikian, betapapun cantiknya seorang istri, jika dibiarkan dan tidak dirawat, akan “lusuh” juga. Sekalipun seseoramh menikahi perempuan cantik bak Dian Sastrowardoyo, jika nalar pikir kita tidak dengan habbit hidup bersih, jadinya juga bisa tidak karuan.

Dan sekalipun seorang perempuan bersuami laki-laki yang biasa-biasa saja, tapi mampu “menghias” dan “membersihkan” suami, suami pun akan punya kans jadi laki-laki yang “mengkilap” juga. Sebab sudah jadi rahasia umum bahwa banyak artis yang sesungguhnya punya wajah biasa saja, setelah mendapat sedikit polesan dan perhatian, bisa agak mengkilap juga.

Nah, kira-kira begitu tela’ah saya tentang hal ini. Barangkali salah. Toh hanya sekedar tela’ah, yang jelas tidak perlu diimani.

Toh ini juga ditulis oleh laki-laki yang jelas belum beristri.

Ahmad Yusuf Tamami Muslich
"Penulis Rubrik Suluh Majalah MAYAra" fb  
Tulisan yang Lain


3 Komentar