Pergulatan Muslim dalam Peradaban Uang (2)



PERCIK.ID- Seperti telah saya angkat pada tulisan sebelumnya soal tantangan yang, mau tak mau, harus dialami oleh semua orang atas tuntutan era modern-kapitalis, maka sebagai bagian dari yang mengaku umat Muslim, siapapun dia harus menemukan titik temu yang presisi.

Menentukan keseimbangan antara spirit Islam dengan dunia modern yang serba materialistik adalah pekerjaan yang wajib kita tuntaskan.


Kalau boleh jujur terbuka, secara pribadi, kegundahan soal benturan Islam dan Kemodernan (materialisme – kapitalisme – duit-duitan) sudah beberapa waktu saya alami. Sebagai pedagang yang harus bergulat dengan bathi, maka mikir uang kan pasti to Mas?

Sedang pada saat yang sama, Islam mengajarkan kita untuk tak materialistis. Untuk berpikir jangka panjang dan tak duniawi. Padahal soal dagang ini kan kadonyan banget habitatnya. Meskipun, menurut beberapa teman pedagang golongam putih, dagang yang berpatok pada akherat adalah niscaya.

Tapi, bertujuan akherat yang seperti apa? Bagaimana penerapan mencari profit sebanyak-banyaknya untuk akherat? Mencari dunia untuk akherat? Bisa gitu? Bukannya kita harus mendahulukan akherat pada prioritas utama? Kok kebalik-balik begitu, sich

Pada saat yang sama, saya juga yakin bahwa praktik mengejar akherat, tak melulu dengan menghabiskan hari-hari hanya di masjid. Apalagi kok terus menjadi Ustadz misalnya. Lha Ustadz kok dijadikan profesi?

Maka, sekali lagi, menemukan keseimbangan laku modern dengan spirit Islam harus saya temukan. Minimal, agar tak oleng karena bingung menghadapi tanggung jawab harian. Islam yang konon katanya rohmatan lil alamin ini, harus bisa menjawab tantangan, di zaman apapun. Termasuk keruwetan zaman yang kayaknya paling edan ini.

Solusi sementara yang bisa saya ketengahkan, kira-kira sepertinya ini: Islam harus menjadi fondasi nilai dalam tataran jiwa dan kesadaran setiap kita yang harus berkutat dengan materialisme dan kapitalisme zaman.

Bahwa kita anggap zaman -dengan kegendengannya pada uang dan materi lainnya- ini kotor dan najis, maka memang begitulah kondisinya. Saya sepenuhnya setuju. Tapi, najis selalu ada pada ranah fisik saja, bukan? Tak pernah kotoran bisa mengotori jiwa yang dijaga suci.

Bahwa Anda harus kotor tubuh Anda karena masuk ke dalam got, tak akan mengurangi kemuliaan pribadi Anda kiranya itu memang satu-satunya pilihan untuk menyelesaikan masalah banjir yang tak pernah usai di kampung Anda.

Justru kotor yang demikian malah tampak indah. Dan kemuliaan pribadi yang mau berkotor-kotor demi kepentingan diluar dirinya itu, tak akan terbit dari hati yang tidak suci dan memahami Islam secara presisi.

Maka, sejauh yang saya pahami hingga saat ini, solusi jitu mengarungi lautan modernisme dan jaman edan, sekali lagi, adalah dengan menjaga kesadaran dan lelaku hati. Spirit Islam harus menghujam dalam dan tumbuh subur dalam jiwa dan kesadaran kita.

Dengan demikian, jikalau harus saling tawar menawar untuk menemukan harga terbaik, Anda masih bisa sampai pada kesadaran untuk mempertimbangkan kebutuhan keluarga lawan negosiasi Anda. Atau kiranya Anda adalah seorang penanggung jawab lapangan, maka tak kemudian Anda memaksakan pekerja untuk menerjang waktu-waktu istirahat dan ibadahnya.

Atau beragam hal-hal kecil disekitar kita yang menjadi mulia karena berangkat dari kesadaran akan nilai-nilai yang kita dapati dalam ajaran agama.

Meskipun Islamnya tak selalu terlihat karena amat sangat privat, tiadalah mengapa asal itu menjaga kewarasan dalam dunia yang semakin tidak masuk akal.

Enggar Amretacahya
Menulis Mencari Ilmu dan Berkah. Pedagang di Surabaya           


KOMENTAR

0 Komentar

BACA JUGA TULISAN YANG LAIN