KH. Muhammad Ma’roef; Pewaris Ilmu Kiai Kholil (2)

PERCIK.ID- Tak berhenti di pesantren Cepoko, Mbah Ma’roef melanjutkan perburuan ilmunya ke Semarang. Beliau ingin menimba ilmu pada ulama besar pada saat itu. Kiai Soleh Ndarat. Genap dua tahun nyantri di Kiai Soleh Ndarat ia lanjutkan pencarian ilmunya ke Langitan, Tuban. Setahun di Langitan Mbah Ma’roef pulang ke Kediri. Mbah Ma’roef pun menakhiri masa lajangnya dengan menikahi Nyai Hasanah puteri dari Kiai Soleh Banjarmlati.


Meski sudah menikah, ternyata tak mengurangi kehausan Mbah Ma’roef akan ilmu. Terbukti dua tahun setelah menikah dan dikaruniai seorang putera, Mbah Ma’roef melanjutkan perburuan ilmunya. Atas izin isterinya, Mbah Ma’roef  pun melanjutkan rihlah ilmiahnya. Kali ini pesantren yang dituju adalah pesantren Demangan, Bangkalan Madura di bawah asuhan Syaikhona Kholil Bangkalan.

Saat tiba di Demangan beliau disambut dengan satu nampan besar yang berisi nasi dan lauknya. Oleh Kiai Kholil Mbah Ma’roef diperintahkan untuk menghabiskan nasi itu. Mbah Ma’roef yang sudah terbiasa dengan puasa dan berlapar-lapar tentu tak akan mampu menghabiskan nasi sebanyak itu. Di sampaingnya, Kiai Kholil berdiri membawa tongkat, yang siap diayunkan ke Mbah Ma’roef apabila tidak mampu menghabiskan nasi itu.

Mbah Ma’roef yang dikenal mempunyai banyak do’a ampuh, kali ini pun menggunakan karomahnya itu. Setelah membaca do’a, ternayta nasi senampan itu berhasil dihabiskan oleh Mbah Ma’roef. Melihat hal itu Kiai Kholil seketika berkata, “Ini orangnya yang akan menghabiskan ilmuku.”

Terus Beriyadhoh
Nyantri di Kiai Kholil tak menghilangkan kebiasaan lama Mbah Ma’roef, riyadhoh. Di pesantren Demangan intensitas riayadhoh Mbah Ma’roef justru kian menjadi-jadi. Di Demangan ini Mbah Ma’roef punya kebiasaan baru, ziaroh ke makam-makam keramat para auliya di Madura. Tak hanya ziarah, Mbah Ma’roef tirakat sebelum mendatangi makam-makam itu.

Sedemikian banyak makam keramat yang Mbah Ma’roef datangi, namun semuanya memberikan jawaban yang mengecewakan Mbah Ma’roef. Kalau ingin alim ya harus belajar dulu.

Terakhir, Mbah Ma’roef riyadhoh di makam Bujuk Sangkak. Di makam ini ia ditemui oleh shohibul makam. Mbah Ma’roef menangis, sedih dan hampir putus asa, karena riyadhoh yang sedemikian keras, ternyata menurut shohibul makam masih kurang. Mbah Ma’roef melaporkan apa yang dialaminya kepada Kiai Kholil. Sang guru pun memberi petunjuk agar Mbah Ma’roef riyadhoh di makam ulama besar, Mbah Abu Syamsuddin di Batu Ampar. Dawuh Kiai Kholil, siapa yang mengkhatamkan al-Qur’an sekali duduk, apapun keinginannya bakal tercapai.

Selesai mengkhatamkan al-Qur’an di makam Batu Ampar, seketika angin lesus menerjang tubuh Mbah Ma’roef. Perasaan Mbah Ma’roef saat itu, kepalanya dipegang dan ditumpleki nasi kuning hingga ia muntah berak. Konon itu adalah proses Mbah Ma’roef memperoleh ilmu laduni. Sejak saat itu seluruh kitab yang ada di pondok Kiai Kholil pun Mbah Ma’roef kuasai.  

Dari pesantren Demangan ini Mbah Ma’roef mempunyai banyak teman yang kemudian hari juga menjadi kiai besar. Di antara mereka adalah Mbah Manab. Alias Kiai Abdul Karim yang kelak mendirikan Pesantren Lirboyo Kediri. Pesantren ini hanya berjarak 1 kilometer dengan pesanteren Kedunglo yang didirikan Mbah Ma’roef. Mbah Manab juga menjadi menantu Kiai Sholeh Banjarmlati. Ini berarti isteri Mbah Ma’roef dan isteri Mbah Manab adalah kakak beradik.

Sekitar tahun 1887 Kyai kholil berrencana melaksanakan ibadah haji. Kiai Kholil berencana menyerahkan pengelolaan pesantren kepada Mbah Ma’roef, selama ia di Mekkah. Namun Mbah Ma’roef dengan rendah hati, merasa tidak pantas untuk mendapatkan amanah itu. Malahan, Mbah Ma’roef meminta nderekaken Kiai Kholil untuk ikut ke tanah suci.

Sebelum berangkat ke tanah suci, Kiai Kholil menyuruh Mbah Ma’roef untuk kembali beriyadhoh di Batu Ampar. Konon, pasca Mbah Ma’roef  riyadhoh, setiap peziarah di Batu Ampar di-impeni Mbah Syamsyuddin agar memberi uang saku ke Mbah Ma’roef yang akan menemani gurunya ke tanah suci.

Akhirnya berangkatlah Kiai Kholil dan juga Mbah Ma’roef ke tanah suci. Setelah menyempurnakan rukun islam yang kelima. Mbah Ma’roef menetap di Makkah kurang lebih 7 tahun untuk studi dan membuat rumah di sana.  

Kepada para santrinya Mbah Ma’roef tidak pernah bercerita detail siapa saja gurunya selama di Makkah. Namun karena Mbah Ma’roef di Makkah antara tahun 1887-1894, dapat diduga kuat bahwa guru-gurunya adalah, Syaikh Nawawi al-Bantani, Syaikh Ahmad Khatib Minangkabau, Syaikh Mahfudz at-Tremasi, Sayyid Abbas al-Yamani, Sayyid Zaini Dahlan dan lain-lain.

Sementara itu teman-teman Mbah Ma’roef saat belajar di Makkah antara lain, Syaikh Hasyim Asy’ari, Kiai Zaini Mun’im, Kiai Abdullah Mubarok dan lainl-lain. Sambil belajar Mbah Ma’roef sendiri rupanya juga mempunyai halaqoh di Masjidil Harom. Terbukti sekembalinya dari Makkah, Mbah Ma’roef sering kedatangan tamu para ulama dari Jazirah Arab.

Referensi:
-Antologi NU Buku I
-The Founding Fathers of NU
-Napak Tilas Masyayikh Buku III
-Majalah Aham Edisi 34 April 2001


Zaenal Abidin el-Jambey
Penulis Buku "Aku Berusaha, Alloh yang Punya Kuasa"  fb


KOMENTAR

0 Komentar

BACA JUGA TULISAN YANG LAIN