Cara Menjadi Kaya

PERCIK.ID- Untuk menjadi orang kaya, atau bahkan orang paling kaya, terlebih dahulu kita harus melihat ukuran kaya dari segi apa. Sebab, bisa jadi ukuran kaya yang digunakan berbeda. Jika ukuran dan definisi kayanya berbeda, jelas tidak akan masuk.

Maka untuk disebut sebagai orang yang kaya, definisi yang akan digunakan adalah definisi dan alat ukur yang ditetapkan oleh Rosululloh saw. Bagaimana cara menjadi kaya menurut Rosululloh saw.?

Rosululloh saw. ternyata tidak memberikan definisi kaya dengan definisi yang orang pada umumnya gunakan. Beliau punya kriteria untuk disebut sebagai orang kaya. Bahkan bukan hanya sekadar kaya, tetapi orang yang terkaya. Rosululloh saw. dawuh,

وَارْضَى ﺑِﻤَﺎ ﻗَﺴَﻢَ اللهُ ﻟَﻚَ ﺗَﻜُﻦْ إِﻏْﻨَﻰ النَّاسِ

"Ridlo Alloh dengan pemberian Alloh, maka kamu adalah hamba yang paling kaya." (Hr.Tirmidzi)

Baca Juga: Cukup itu Enak

Menjadi sangat relevan sebab pada hadis masyhur lainnya, Rosululloh saw. dawuh dengan makna yang kurah lebih sama, "Hakikat kaya bukan dari banyaknya harta. Namun kekayaan hati." (Hr. Bukhori)

 

Dalam konteks ini, kita barangkali akan ingat dengan dawuh yang pas dari Gus Mus (KH. Musthofa Bisri) tentang definisi kaya yang beliau sampaikan. Gambaran beliau, meskipun rumah banyak, mobil banyak, tapi masih butuh BLT, masih korupsi, masih ngentit, maka dia bukan orang kaya. Sebab orang yang kaya sudah tidak lagi butuh itu.

Maka apa yang disampaikan oleh Gus Mus tersebut pas untuk menjadi penjelas dawuh dari Rosululloh saw. bahwa kaya bukan sebab wujud materinya, tetapi apa yang ada di dalamnya hatinya. Jika telah cukup dan ridlo, maka kayalah ia.

Pasalnya kebanyakan manusia sering tidak punya batas untuk mengeruk harta sebanyak-banyak selagi bisa. Tak peduli seberapa banyak yang ia miliki, tetap saja keinginan untuk ngeruk harta itu masih terus bercokol.

Bayangkan, orang yang telah memiliki uang milayaran, bahkan triliunan, masih punya keinginan untuk mengeksploitasi segala sesuatu yang dianggap prospek demi mendapatkan cuan sebanyak-banyaknya. Sebab tanpa “menjadi kaya”, orang akan terus miskin. Efeknya, segalanya masih ingin dikeruk.

Realitasnya, itu terjadi di jaman ini. Era di mana bisnis bergerak dan segala sesuatu mesti dikomersilkan. Dan istimewanya, karakter semacam itu telah dicondro oleh Rosululloh saw. 14 abad yang lalu. "Jika manusia memiliki dua jurang berisi emas maka ia akan mencari jurang berisi emas yang ketiga. Tidak ada yang dapat memenuhi perut manusia kecuali tanah. Dan Alloh menerima taubat orang yang bertaubat." (Hr. Bukhari) 

Manusia semacam apa yang didawuhkan oleh Rosululloh saw. itu ada dan nyata, terlebih di era milenial seperti sekarang. Manusia yang tidak pernah berhenti berhasrat dan mengeruk segala sesuatu sebanyak-banyaknya, sebanyak-banyaknya, sebanyaknya-banyaknya.

Menjadi kaya seperti yang didawuhkan oleh Rosululloh saw. faktanya juga bukan perkara mudah. Tidak lebih mudah dari menjadi kaya seperti yang didefinisikan memiliki banyak uang. Toh banyak orang yang punya banyak uang dalam wujudnya tetapi tidak memiliki banyak uang di hatinya. Dan juga tidak sedikit yang tidak punya uang di tangannya tetapi juga juga tidak punya uang di hatinya. Itu bukti bahwa kaya di hati bukan perkara mudah!

Untuk memudahkan menjadi orang kaya, Rosululloh memberikan tips dengan sangat indah,  "Lihatlah orang yang ada di bawah kalian. Dan janganlah melihat kepada orang yang di atas kalian. Hal itu lebih pantas untuk tidak meremehkan nikmat dari Alloh kepada kalian." (Hr. Muslim)


Tim Redaksi Percik.id    


Posting Komentar

1 Komentar

Comments
Comments