Wonderland Indonesia: Bukti Keberhasilan Generasi Milenial dalam Memberdayakan Teknologi Digital

 

PERCIK.ID- Sejak beralih ke zaman modern, masyarakat (khususnya generasi muda) dianggap telah meninggalkan segala hal yang berbau tradisional. Kemajuan tekonologi dipuja-puja oleh banyak orang sebab kecanggihannya. Entah mau diakui atau tidak, kenyataannya kemajuan teknologi dianggap mengikis budaya tradisional. Sebut saja seperti pengawet alami yang digantikan oleh pengawet buatan, kerbau yang diganti traktor, hingga andong yang kalah tenar dengan sepeda motor.

Kini era kembali berganti, dari zaman modern beralih ke zaman pasca-modern yang ditandai dengan kemajuan teknologi berbasis digitalisasi. Peralihan ini ditandai dengan kemunculan buku digital (ebook) untuk ‘mempraktiskan’ buku cetak, lalu keberadaan koran digital yang juga untuk ‘mengimbangi’ koran cetak, hingga yang paling baru: pembelajaran secara virtual.

Sekilas, yang disebut digital dan yang dianggap tradisonal terlihat seperti dua hal yang bertolak belakang, padahal dua hal tersebut justru bisa dikolaborasikan menjadi suatu karya yang menakjubkan. Wonderland Indonesia karya Alffy Rev telah membuktikannya lewat view yang mencapai 11 juta sejak dirilis pada tanggal 17 Agustus 2021 (yang mungkin saja bisa terus bertambah seiring perjalanan waktu) serta sempat menduduki trending pertama di Youtube

Tak hanya itu, Wonderland Indonesia juga mendapatkan respons yang positif dari pelbagai kalangan. Dengan olah kreasi teknologi berbasis digitalisasi, Alffy Rev sebagai generasi milenial berhasil membuktikan bahwa ‘yang tradisional’ akan berada di tingkat level yang lebih tinggi jika dikombinasikan dengan teknologi digital. Sederhananya, tradisional dan milenial dapat saling berpelukan, tanpa perlu saling menjatuhkan. Toh, konten-konten tradisional yang dipublikasikan secara digital menjadi ide yang menarik untuk tetap menjaga kelestarian nilai historis.

Melalui teknologi digital itulah, masyarakat Indonesia mulai menyadari bahwa Nusantara tak hanya menakjubkan, namun juga dipenuhi keajaiban. Alffy Rev membukanya dengan sajian rumah adat khas Nusantara yang melayang di atas tanah, seperti sebuah negeri dongeng. Penampakan rumah adat agaknya lebih akrab dilihat di buku-buku atlas atau buku-buku ensklopedia. Kabar baiknya, generasi milenial lebih akrab dengan teknologi digital daripada buku-buku tersebut. Oleh sebab itu, Wonderland Indonesia menjadi jembatan yang manis untuk mengenalkan kebudayaan Nusantara kepada generasi-generasi muda.

Berlanjut dengan tampilan alam Nusantara yang memukau dengan warna hijau dan kemegahan Candi Borobudur serta Pura di Bali. Mungkin generasi milenial merasa bosan dengan mengunjungi candi-candi. Namun mengunjungi candi dengan olah kreasi digital yang mempesona seperti di Wonderland Indonesia adalah sebuah cerita yang berbeda. Borobudur menjelma sakral sekaligus menakjubkan dengan sentuhan imajinatif Alffy Rev.

Tak hanya rumah adat, Wonderland Indonesia juga menyuguhkan baju-baju adat tradisional dan lagu-lagu daerah yang tersebar di pelbagai wilayah Nusantara. Mulai dari Sajojo hingga Tak Lelo Lelo Ledung membuat penikmatnya bernostalgia dengan lagu-lagu yang menemani masa kecil. Pada awalnya, generasi milenial jauh lebih akrab dengan lagu-lagu K-Pop daripada lagu daerahnya sendiri, namun Wonderland Indonesia telah membuka hati mereka: belum terlambat untuk menyadari bahwa lagu-lagu daerah juga tak kalah mempesona. Hal ini diharapkan menjadi kabar baik untuk masalah krisis identitas yang sedang digaungkan oleh beberapa pakar. Anak Indonesia mulai tidak (ingin) tahu identitas tanah kelahirannya sendiri, namun dengan trending-nya Wonderland Indonesia, semoga masalah krisis identitas segera menemui solusinya.

Dulunya, budaya khas Nusantara itu seolah tertinggal jauh di belakang. Tertumpuk budaya-budaya populer yang dari waktu ke waktu kian mengubur segala hal yang telah lalu. Namun kini, sebab kemajuan teknologi digital, budaya khas Nusantara bisa dihidupkan kembali dengan cara yang lebih milenial oleh para generasi milenial. Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi sudah saatnya tak lagi ditakuti akan menggerus kearifan lokal yang dijaga agar tetap lestari, tetapi perlu diyakini di dalam hati bahwa justru akan menjadi pembantu dalam menjaga identitas lokal setiap pulau di Nusantara. Pluralitas budaya Nusantara yang sangat beragam membutuhkan sarana yang global agar dikenal oleh seluruh masyarakat di penjuru Nusantara, bahkan dunia. Sarana tersebut adalah digitalisasi sebagaimana yang berhasil ditunjukkan oleh Wonderland Indonesia.

Wonderland Indonesia seolah ingin gagah berdiri untuk membuktikan bahwa kemajuan teknologi digital bukanlah ancaman untuk eksistensi budaya tradisional. Digitalisasi justru menjelma peluang sekaligus kekuatan untuk merevitalisasi budaya tradisional yang telah sekian lama ‘tertidur pulas’. Jika dulu pengenalan budaya tradisional terbatas oleh ruang sempit yang bernama waktu; tempat; dan sejenisnya, maka kini pengenalan dapat dilakukan dengan lebih bebas tanpa terikat dengan sesuatu yang bernama ‘digitalisasi’. Kebiasaan masyarakat pasca-modern yang berdampingan dengan teknologi digital menjadi celah yang besar untuk menghidupkan kembali budaya Nusantara yang dikemas dengan konsep kekinian.

Akhir kata, semoga akan lahir Wonderland-Wonderland Indonesia baru yang memberdayakan teknologi digital untuk merevitalisasi budaya tradisional oleh generasi-generasi milenial yang lain.

Akhmad Idris
Dosen bahasa Indonesia di Sekolah Tinggi Ilmu Bahasa dan Sastra Satya Widya Surabaya.

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama