Cinta Pertama itu Bernama Roma

PERCIK.ID- Kenangan itu berkibar-kibar sama semaraknya seperti merah putih di bulan Agustus. Merah putih pula warnanya; merah darah serigala, putih warna tulang yang tampak dari daging koyak dari tubuh yang telah penuh dengan luka. Tanda dari perjuangan habis-habisan. Tanda untuk hari yang layak dirayakan dan dikenang. 17 memang angka sarat makna. Pada tanggal itu bangsa kita memproklamirkan merdeka. Pada tanggal itu pula, 17 Juni 2001, AS Roma menjadi raja Liga Italia.  Kala itu, tak ada tontonan bola yang menarik kecuali Liga Italia—Liga Champions bahkan tak lebih menarik darinya.

Kakak saya adalah orang pertama yang mengenalkan dan sekaligus membuat saya jatuh cinta pada Liga Italia. Ia boyong dari pondok, masih seorang pengangguran. Bujang tua dan butuh hiburan. Tengah malam tiap akhir pekan, kadang malah dini hari, ia bangunkan adiknya yang belum genap 10 tahun ini untuk menemaninya nonton bola. Saya sih senang-senang saja, apalagi ia selalu bikin mie instan atau nasi goreng. 

Jagoannya adalah Juventus, pemain favoritnya adalah David Trezeguet. Tipikal idola lulusan pondok, berdarah timur tengah dan ngingu jenggot. Sangat islami pikirnya, barangkali. Ia juga sering cerita soal Zinedine Zidane yang menurutnya bernama asli Zainuddin Zidan, ternyata Zidane adalah mantan pemain Juventus. 

Orang lebih mudah mengingat tanggal pernikahannya dibanding tanggal tanggal kapan jatuh cinta untuk pertama kalinya. Masyhur beredar ungkapan Dalang Edan Sujiwo Tejo, "Menikah itu nasib, mencintai itu takdir. Kamu bisa berencana menikahi siapa, tapi tak dapat kau rencanakan cintamu untuk siapa". Begitulah, saya tak ingat kapan kali pertama jatuh cinta pada Roma, sebab tanpa rencana. Teman-teman saya sepertinya juga menyukai Roma, tapi seingat saya tak ada yang punya jerseynya, kalau jersey Juventus ada, Nahar namanya, anak tentara. 

Sampai sekarang saya masih hafal lagu india yang diganti liriknya dengan nama-nama pemain AS Roma: 

ae Montela… a a!

Batistuta… a a !

Lima Totti…

Cafu Tommasi a…  

Entah judul lagunya apa, nadanya saja yang kuhafal, coba kutanya Google, yang muncul justru lagu-lagunya Bang Haji Rhoma Irama. 

Hari itu, tanggal 17 itu. Cuma ada warna merah. Olimpico penuh dan bergemuruh. Roma unggul 3-1 atas Parma. Kalau skor tak berubah sampai usainya laga, Roma juara. Menit 84 laga terhenti ketika sebagian tifosi Roma berlari ke tengah lapangan. Mereka merasa tak perlu menunggu peluit dibunyikan untuk merayakan. Dada mereka meletup-letup menanti detik demi detik. Sudahlah, Roma juaranya! 

Euforia itu, gegap gempita itu, pesta pora itu adalah kali terakhir, belum pernah terulang lagi, dan karenanya patut dikenang. 

Ketika wasit Stefano Barschi meniup peluit tanda berakhirnya pertandingan, para pemain Parma bergegas berlari ke ruang ganti, mereka musti cepat menghindar, sebab puluhan ribu Romanisti langsung menyerbu dan menghambur ke tengah lapangan. Meluapkan kegembiraan, melampiaskan penantian, melupakan segala masalah dan bertiak bersama-sama: Campione, Campionie, Campione. 

Il Capitano Franscesco Totti, aktor utama dan nyawa AS Roma bertelanjang dada, diserbu paparazi dan reporter stasiun televisi. Kelak, ia mengutarakan bahwa satu-satunya gelar Scudetto yang pernah ia raih bersama Roma itu amat istimewa, “di sini, sebuah gelar bernilai 10 di klub lain.” 

20 puluh tahun berlalu dan Roma belum mampu naik ke puncak kejayaan yang sama. Mendukung AS Roma memang suatu cara berpuas diri dengan apa yang sudah dimiliki dan bersyukur atas sedikit hal lain yang bisa didapat. Comeback luar biasa kala menjamu Barcelona pada leg kedua babak perempatfinal Liga Champions 2017-2018, rasanya sudah jadi juara Eropa. Menang 3-0 pada leg kedua setelah kalah 1-4 pada leg pertama itu jauh lebih menakjubkan daripada malam ajaibnya Liverpool di Istanbul kala mengalahkan AC Milan.

Suasana merdeka, semarak merah dan putih mengerek kenangan masa silam itu sampai ke puncak kenangan. Ungkapan Bernard Shaw barangkali ada benarnya "Cinta pertama hanyalah sedikit kebodohan dan banyak rasa ingin tahu." 

Saya sempat berubah haluan jadi pendukung Manchester United karena Liga Italia tak lagi semenarik dulu. Ah, alasan saja! Bagaimana ceritanya cinta bisa menjadi tidak menarik? Bilang saja bosan kalah dan rindu ingin juara. Selingkuh itu namanya! Cinta dan mencintai itu berbeda. Semesta kecilku kala itu—dengan segala kepolosan dan keterbatasan pengetahuan—menyorongkan Roma secara alami sebagai klub yang menumbuhkan cinta. Cinta itu alami, mencintai itu sikap budayawi. Tau apa bocah soal definisi begituan. Baru beranjak tua saja dmemperoleh kesadaran demikian. Bahwa mencintai harus menganggu konsekwensi budayawinya: setia, tidak seenaknya pindah ke lain hati, dan lain-lain. Jadi, saya jelas tak selingkuh. Cuma sedang bodoh dan mau senang-senang saja. 

Ketika serigala-serigala Roma  dihajar MU yang sedang ganas-ganasnya dengan skor telak 7-1 bertahun lalu. Hati ini masih pula merana. Gol indah Danielle De Rossi jadi tak enak untuk dikenang dan dibicarakan. Sebab lukanya lebih nganga daripada bunga yang mekar di dalamnya. 

Syafiq Rahman
Freelence Writer & Pedagang Buku "Makaru Makara"  fb          

Posting Komentar

1 Komentar

Comments
Comments
  1. Syafiq Rahman

    Cinta Pertama itu Bernama Roma
    https://www.percik.id/2021/08/cinta-pertama-itu-bernama-roma.html

    BalasHapus