Kangen Agustusan

  

PERCIK.ID- Hari ini sudah memasuki akhir pekan kedua di Bulan Agustus. Suasana PPKM yang sudah diperpanjang untuk ke-empat kalinya ini membuat ada nuansa kemeriahan yang hilang. Biasanya tanggal 1 Agustus malam, kerlap-kerlip lampu penjor di sepanjang jalan sudah menyala. Belum lagi umbul-umbul warna warni yang terpasang meriah. Dan yang pasti bendera negara merah putih jelas berkibar di setiap rumah. Poster-poster perlombaan di kampung, desa, kecamatan, bahkan kabupaten terpampang di sudut-sudut papan pengumuman. Sayangnya, Agustus pekan pertama di sini tidak begitu mencolok kebiasan-kebiasan di atas. Sepi.

Sudah cukup lama proklamasi kemerdekaan ini diraih, 76 tahun bangsa ini merdeka. Kalimat-kalimat bijak mengenai kemerdekaan yang sering berseliweran di sosial media kita mungkin kalimat yang bunyinya, ‘Pejuang dan pahlawan membayar kemerdekaan dengan darah, keringat, dan nyawa. Kita sebagai generasi penerus yang mempertahankan kemerdekaan harus memberikan yang terbaik untuk negara.’  Mengingat zaman yang “begini” ini, kok rasanya quotesi di atas klise.

Apa wujud konkret memberikan yang terbaik untuk negara saat ini? Retorik dan susah untuk kita jawab. Butuh perenungan mendalam mungkin.

Hubbul wathon minal iman, mencintai negeri sebagian dari iman. Secinta apa kita dengan Negeri Indonesia ini? Bagaimana menentukan kadar kecintaan kita terhadap negeri ini sehingga bisa menjadi tolok ukur keimanan kita? Retorik sekali.

Untuk situasi yang serba tidak menentu lagi menguji kita sekarang ini. Menjadi warga negara yang baik versi kami seyogyanya adalah wara negara yang tidak menyusahkan pemerintah. Tidak membuat onar dan gaduh dengan jari jemari yang mengetik kalimat meresahkan di media sosial. Tidak provokatif terhadap permasalahan yang benang merahnya belum terurai sempurna. Tidak reaktif terhadap fenomena masyarakat di tingkat apapun sebelum mengetahui duduk perkara pastinya.

Sungguh, pencapaian ketenteraman di tengah gentingnya wabah ini adalah nilai rapor yang terbaik. Lhah wong yang sudah berusaha mendekat kepadaNYA masih ada kegelisahan, terlebih mereka yang mengandalkan logika dan ide, tidak jarang mereka merasa kecil hati, putus asa, dan menyalahkan keadaan yang secara tidak langsung tidak ridho dengan ketetapan Alloh Swt.

Maka, mari semangat pahlawan kemerdekaan yang telah dteladankan menjadikan kita bangkit baik secara iman, takwa, kualitas, dan kompetensi diri untuk mewujudkan atmosfer meriahnya kemerdekaan seperti tahun tahun sebelumnya.

Saya yakin sebagian besar dari kita kangen dengan nuansa Agustusan yang gebyar. Belum lagi keseruan anak-anak sekolah yang bisa jadi hampir sebulan penuh mendapatkan dispensasi untuk tidak masuk kelas karena harus berlatih bersama pelatih TNI untuk menjadi pasukan pengibar pendera atau menjadi kontingen lomba-lomba Agustusan di tingkat kecamatan, kabupaten, atau provinsi.

Merdeka! Jayalah Indonesiaku!

Pandu T. Amukti
Santri yang nDokter Hewan. 

Posting Komentar

1 Komentar

Comments
Comments