PERCIK.ID- Dalam beberapa kesempatan, saya sering menggunakan analogi kekuatan dan kemampuan ketika membahas tentang remaja yang mendapatkan naungan di akhirot karena ketaatannya. Kanjeng Nabi memberikan “bocoran” kondisi di akhirot, ketika matahari hanya sejengkal dari atas kepala, salah satu yang mendapatkan naungan dari panasnya matahari itu adalah remaja yang taat beribadah. Catat, remaja!
Catatan bahwa Kanjeng Nabi menyebut dengan remaja bisa kita tarik aktualitasnya dengan melihat betapa di berbagai tempat, orang-orang yang rajin beribadah adalah orang-orang yang sudah sepuh. Di masjid-masjid, di musholla-musholla, mayoritas jama’ahnya tentulah orang-orang tua. Itu jadi gambaran bahwa umumnya kualitas ketaatan remaja kalah dengan orang tua. Maka luar biasa hebat kalau ada remaja bisa memliki ketaatan sebagaimana orang tua.
Banyak sekali faktor yang melatarbelakangi alasan kenapa umumnya remaja tidak setaat orang tua. Maka kemudian saya sering menggunakan analogi karena kekuatan dan kemampuan remaja yang sedang dalam puncaknya, ditambah dengan keinginan pada banyak hal yang sedang menggebu-nggebunya. Plus lagi, seperti kata Bang Haji Oma, “yang selalu merasa gagah, tak pernah mau mengalah. Masa muda, masa yang berapi-api. Yang maunya menang sendiri, walau salah tak peduli. Biasanya para remaja, berpikirnya sekali saja, tanpa menghiraukan akibatnya.”
Kekuatan ada, kemampuan punya, keinginannya berapi-api, bayangan mati masih jauh, tapi kematangan berpikir dan pengalaman hidup masih minim. Ini waktu yang “tepat” bagi remaja untuk memuaskan diri dengan hasratnya kalau tidak berpegangan pada agama. Kalau mereka bisa menahan diri dan bisa menjadi remaja yang taat, maka sungguh luar biasa sekali.
Gambaran semacam itu yang sering saya sampaikan. Tapi kemudian saya punya gambaran baru dan sangat menarik ketika membaca buku “Mari Menjadi Kampungan” Almarhum Prie GS soal remaja kalau taat itu luar biasa sekali. “Karena beragama itu berat, dan menjadi remaja itu juga berat. Maka betapa berat menurut remaja yang sudah berat itu untuk mengerjakan ketaatan beragama yang juga berat. Menjadi remaja saja tidak gampang, apalagi untuk taat beragama yang juga tidak gampang. Maka, jika ada pihak yang sanggup lulus dari dua ujian yang tidak gampang ini, logis saja jika ia bermutu tinggi,” tulis beliau.
Pada beberapa halaman berikutnya, beliau menulis penjabaran yang menggelitik, tapi memang nyata adanya. Beliau menggambarkan betapa susahnya menjadi remaja, dan karena susah, maka layak diapresiasi setinggi-tingginya.
“Kalau manusia itu bernama anak muda, remaja. Woo, dua kali lipat persoalannya. Padahal persoalan itu cukup diambil dari dalam dirinya sendiri saja. Remaja, jangankan berpikir soal salat dan puasa, terteror jerawat saja sudah setengah mati. Ia bisa menolak keluar dari rumah, membatalkan kencan, dan malah minta dioperasi segala…
Ada remaja lain yang mengaku beruntung karena bebas jerawat dan babas gigi maju, tapi sayangnya tampangnya biasa-biasa saja. Tanggung, kata orang. Kalau kumpul yang jelek terlihat cakepnya, kalau kumpul yang cakep terlihat jeleknya. Remaja semacaam ini akan terus dikopyok terus oleh persoalan suka dan benci pada dirinya sendiri. Jika ia sedang ketemu musuh jelek dan muncul cakepnya, ia akan gembira sampai lupa diri. Tapi begitu situasinya terbalik, sedang ketemu yang cakep dan muncul jeleknya, ia langsung ingin bunuh diri.
Itu tadi remaja yang tanggung. Sekarang bagaimana remaja yang tidak cuma tanggung, tapi jelek sekalian. Kemana-mana suram melulu hidupnya. Terhadap cermin ia alergi…
Itu tadi remaja jelek total. Lalu yang keren total? Sama saja. Karena kerennya remaja ini ditawari pacaran di mana-mana. Hidup baginya tampak mudah, tapi bahaya mengepung di mana-mana.”
Kita tahu bahwa kadar kualitas seseorang ternilai dari seberapa ujian yang diberikan. Anak SMA yang dapat ujian “1 tambah 1” harus sadar diri bahwa kualitas dirinya mungkin masih keteteran jika diuji dengan perkalian, pembagian, apalagi sampai pangkat-pangkatan. Orang-orang yang diberikan kegantengan, gagah, kaya, lalu menggunakan semua ‘fasilitas” yang diberikan oleh Alloh itu untuk sesuatu yang tidak menyeleweng, sungguhlah kualitasnya luar biasa, apalagi jika “fasilitas” itu digunakan untuk kebaikan, maka berlipat hebatnya.
Maka, sebagaimana orang kaya yang bersedekah 100 ribu dan orang miskin yang bersedakah 100 ribu hanya punya kesamaan di nominalnya, tidak pada nilainya. 100 ribu bagi orang kaya mungkin hanya nol nol nol koma dari kekayaanya. Tapi bagi orang miskin, itu mungkin sudah mencari puluhan persen dari materi yang dimiliki. Jelas beda nilainya. Maka, “nilai ujiannya” tentu lebih besar yang miskin.
Wajah yang ganteng dan wajah yang jelek juga kurang lebih demikian. Remaja ganteng yang punya kemampuan memikat, tapi ternyata tidak digunakan, tentu nilai pahalanya lebih besar daripada wajah jelek yang memang sulit untuk digunakan memikat. Pada tingkat ini, “nilai ujian” keimanan remaja yang ganteng lebih tinggi derajatnya daripada yang jelek.
Tapi jangan lupa, remaja yang mampu menahan diri dan senantiasa bersabar atas ujian tampang tanggung atau jelek sekalian juga punya nilai pahala tersendiri di sisi Alloh. Dan ingat pula, wajah tanggung dan jelek sekalian yang kemaki juga tak sedikit jumlahnya. Dan tentu itu menghasilkan minus 2, jelek dan kemaki. Na’udzubillah.

